Minggu, 12 April 2026

Hukuman Mati

Mengapa Indonesia Lebih Simpati Kepada Mary Jane Ketimbang Duo Bali Nine?

Ada beberapa alasan kira-kira mengapa Australia kerap mendapat penolakan dari Indonesia, terutama terkait ajuan penghapusan eksekusi mati.

Editor: Rendy Sadikin
WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN
Gabungan komunitas buruh migran melakukan aksi seribu lilin di depan Istana Merdeka, JakartamPusat, Senin (27/4/2015). Mereka meminta kepada pemerintah agar memberikan pengampunan dan menghentikan proses eksekusi mati kepada Mary Jane yang hanya diperalat untuk membawa Narkoba ke Indonesia. WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN 

Laporan Wartawan TRIBUNNEWS.com, Ruth Vania Christine

TRIBUNNEWS.COM - Menimbulkan banyak pertanyaan soal mengapa terpidana mati asal Filipina Mary Jane Veloso lebih mendapat simpati dari masyarakat Indonesia, terutama pemerintahnya, ketimbang duo terpidana mati Bali Nine asal Australia.

Situs Inquirer dalam artikelnya pada Sabtu (02/05/2015) lalu menuliskan beberapa alasan kira-kira mengapa Australia kerap mendapat penolakan dari Indonesia, terutama terkait ajuan penghapusan eksekusi mati terhadap terpidananya.

Intinya terletak pada jenjang perbedaan kultur Timur dan Barat antara Indonesia dan Australia.

Presiden Aquino dan rakyat Filipina dikatakan tetap menjaga moral dan kepekaan kultur saat memohon kepada Presiden Joko Widodo.

Filipina juga tidak sampai mengecam Indonesia, apalagi memposisikan Indonesia layaknya negara bawahan.

Berbeda sekali dengan Australia, yang menggunakan kecaman-kecaman untuk melabeli Indonesia sebagai negara yang "biadab", "keadilannya penuh dengan korupsi", "tak tahu diuntung", hingga "berpemimpin lemah".

Australia pun dianggap kurang peka dalam melihat kebiasaan Indonesia melobi WNI terpidana mati di negara lain, khususnya daerah Timur Tengah.

Indonesia memang kerap berurusan dengan pemerintah Arab Saudi untuk menyelamatkan TKI tervonis mati di sana.

(Baca juga : Di Australia Duo Bali Nine Jadi Nama Beasiswa, JK: Itu Kurang Pantas)

Inquirer mengatakan seharusnya Australia dapat mencontoh Indonesia yang akhirnya mengalah dengan hukum lokal Arab dan membayar tebusan atas nyawa Satinah, bukan malah mempermalukan negara tersebut di kancah internasional dan memaksa agar hukumnya diterima oleh pemerintah Arab.

Selain itu, menurut sang penulis, Pierre Marthinus, yang disayangkan dari Australia adalah sedikitnya orang yang intelek pada konteks tertentu, terutama yang dapat secara bijak melihat duduk permasalahan kasus eksekusi duo Bali Nine.

(Baca juga Warga Australia Serukan 'Boikot Bali' dan 'Boikot Indonesia' di Sosial Media)

Australia dianggap seperti model ahli yang kurang kreatif dan cenderung ingin melakukan sesuatu dengan instan, tanpa melihat dan mempertimbangkan kompleksitas masalah yang akan dihadapi.

"Jika Australia tidak bisa memahami dan berinteraksi dengan Indonesia dengan sopan, seharusnya tidak usah bermimpi untuk bisa berhubungan baik dengan kelompok Asia Timur, di mana pada daerah tersebut masih banyak negara yang menganut sistem eksekusi mati," tulis Marthinus.

Belum lagi di Asia Tenggara, setidaknya 8 dari 10 anggota ASEAN masih melakukan eksekusi mati.

Negara-negara tersebut tentu tidak akan segan mendukung Indonesia yang melihat Australia sebagai negara yang "menjijikkan dan tidak sopan".

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved