Ledakan Bom di Sarinah

Teroris Remaja Anak Buah Bahrun Naim Dituntut 7 Tahun

Andika Bagus Setiawan menjadi teroris remaja yang diadili di pengadilan tanah air.

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Polisi bersenjata lengkap berjaga disekitar kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016). Sejumlah pelaku teror melakukan peledakan dan penembakan kepada polisi dan warga didaerah Sarinah, Jakarta Pusat, mengakibatkan korban tewas serta terluka. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, Andika mengenal Ibaddurohman, alias Ibad alias Ali Rabani alias Azis yang dikenalkan oleh Saiffudin. Dari perkenalan tersebut, Ibad mengajak Andika untuk berkumpul di Mushola At-Taubah, Desa Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah.

Ibad mengajak untuk melakukan amaliah dengan berjihad. Di Mushola tersebut Ibad menanyakan kesiapan Andika untuk melakukan Jihad. Ketika itu, Andika mengiyakan.

Selain itu ibad pernah menyuruh Andika untuk menghaluskan arang, blerang dan bahan lainnya yang akan dijadikan bahan pembuat bom di Mushola At Taubah. Mendapat perintah tersebut, hampir setiap malam Andika menyempatkan menghaluskan bahan tersebut di Mushola.

Perpecahan antara Andika dan Ibad bermula dari peracikan bahan peledak tersebut. Ibad tidak mengapresiasi hasil kerja Andika dan malah memarahinya. Akibatanya Andika tidak pernah lagi bergabung di Mushola At taubat.

Penangkapan dilakukan Densus 88 terhadap Ibad, Yuskarman, dan Saifudin pada 12 Agusutus 2015 lalu, terkait bom termos di bantaran kali Bengawan Solo. Penangkapan itu membuat Andika yang juga bekerja sebagai buruh bangunan tersebut kemudian mencari persembunyian dengan menemui Susilo, teman yang pertama kali ditemuinya saat pengajian di Pasar Kliwon.

Oleh Susilo, Andika dititipkan kepada Hamzah. Setelah dua minggu bersembunyi, Hamzah kemudian mengantarnya ke Bekasi bersama Nurokhman yang kini masih DPO, menuju rumah Arief Hidayatullah, dengan alasan lebih aman.

Namun justru di tempat Arief itulah Andika dan Hamzah terus dicekoki mengenai jihad. Arief terus memberikan tausiah mengenai berperang melawan orang kafir. Didoktirn juga mengnai mati dalam berjihad adalah mati syahid dan sangat mulia.

Saat di tempat persembunyian tersebut Arief pernah mengatakan kepada Nurokhman jika Abu Aisah meminta untuk segera melalaksanakan amaliah untuk mendirkan daulah di Indonesia. Abu Aisah yang dimaksud adalah Bahrun Naim yang telah bergabung dengan ISIS.

Sekitar Oktober 2015, Arief memberitahu kepada Andika dan Nurakhman jika Bahrun Naim telah mengirimkan uang untuk kegiatan amaliah. Selain itu ia juga mengatakan bahwa tidak lama lagi akan ada teman dari Turki untuk membantu kegiatan Amaliah tersebut. Oleh karenanya kepada keduanya, Arief menyuruh untuk segera menentukan target dan membuat bom.

Arief Hidayatullah bersama keduanya kemudian membuat bahan peledak. Bahkan beberapa hari kemudian dengan diantar menggunakan mobil ketiganya menuju Vila di bogor untuk membuat bahan peledak bersama Faris , Nur Mukhamet, dan Sumardi.

Setelah bahan peledak jadi, kemudian terjadi perselisihan antar Andika dan Arief. Perselisihan tersebut berawal ketika andika meminta aksi dilakukan dengan cepat. Sementara Arief meminta Andika dan Hamzah bersabar, menunggu momentum yang tepat.
Andika dan Hamzah kemudian memutuskan kembali ke Solo sebelum akhirnya ditangkap pada 29 Desember 2015 di dua tempat berbeda. (tribunnews/fik)

Penulis: Yulis Sulistyawan
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved