Minggu, 31 Agustus 2025

Tragedi Kemanusiaan Rohingya

Pegiat HAM Dinilai Kurang Peduli Rohingya

Menurutnya, tragedi kemanusiaan tersebut tidak mendapatkan perhatian khusus dari para aktivis HAM.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
Surya/A Zaimul Haq
Massa dari ormas se-Surabaya menggelar aksi solidaritas untuk Rohingya di depan Gedung Negara Grahadi, Selasa (5/9/2017). SURYA/A ZAIMUL HAQ 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Badan Koordinasi Muballigh Indonesia (DPP BAKOMUBIN) Deddy Ismatullah menyesalkan sikap kurang peduli para pegiat Hak Asasi Manusia di Indonesia dan Internasional terhadap kasus pembantaian yang dialami muslim Rohingya.

Menurutnya, tragedi kemanusiaan tersebut tidak mendapatkan perhatian khusus dari para aktivis HAM.

"Sangat disesalkan, tragedi kemanusiaan tidak mendapatkan penyikapan yang semestinya dari para pegiat HAM Indonesia dan Dunia Internasional," ujar Deddy, dalam keterangan persnya di Kantor DPP BAKOMUBIN, Jalan Danau Poso, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Selasa (5/9/2017).

Deddy menyebut kurangnya perhatian terhadap kasus yang kini masih berlangsung di kawasan Rakhine, Myanmar tersebut menunjukkan bahwa ada diskriminasi dalam menyoroti persoalan HAM.

"Hal ini menunjukkan terjadinya diskriminasi dalam menyikapi permasalahan HAM," katanya.

Hal itu mengacu pada penanganan kasus terhadap para muslim Rohingya yang ia anggap berbeda jika dibandingkan dengan kasus di negara lain.

"Jika dibandingkan dengan kejadian serupa yang menimpa umat dan warga di berbagai belahan dunia lainnya," katanya.

Baca: Wiranto Persilakan Siapapun Peduli Tragedi Rohingya Untuk Datangi Kantornya

Sebelumnya, kejahatan kemanusiaan yang dilakukan terhadal etnis Rohingya dilaporkan semakin memburuk.

Kekerasan tersebut dilakukan di negara bagian Rakhine, Myanmar, dalam beberapa hari terakhir.

Korban tewas akibat tindakan tersebut pun semakin meningkat.

Hal tersebut disebabkan bentrokan bersenjata antara tentara dan militan Rohingya yang terus berlanjut.

Tindakan kekerasan tersebut kemudian yang memicu ribuan muslim Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh karena khawatir pada keselamatan diri mereka.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan