Senin, 18 Mei 2026

Kasus Terorisme

Kisah Murid Noordin M Top yang Batal Meledakkan Kafe Gara-gara Wanita Berjilbab

Abdurrahman Taib (45), mantan narapidana kasus terorisme, hadir dalam peringatan Nuzulul Quran di Lapas Klas I Malang, Selasa (6/5/2018).

Tayang:

TRIBUNNEWS.COM, MALANG - Abdurrahman Taib (45), mantan narapidana kasus terorisme, hadir dalam peringatan Nuzulul Quran di Lapas Klas I Malang, Selasa (6/5/2018).

Kehadiran Taib itu menjadi perhatian serius ratusan narapidana yang hadir di sel pondok pesantren Lapas Klas I Malang.

Kepala Lapas Klas I Malang Farid Junaedi sengaja mendatangkan mantan napi dari Palembang itu untuk berbagi kisah inspiratif bagaiamana ia keluar dari belenggu doktrin radikalisme.

"Saya berharap mari didengarkan apa yang dikisahkan pak Abdurrahman Taib. Beliau ini Lahir di Lampung tapi keluarga aslinya Klaten serta tumbuh besar dan lama di Palembang. Dulu mantan ketua teroris Palembang," terangnya, Selasa (6/5/2018).

Baca: Golkar Nilai Dodi Reza Bisa Ikuti Jejak Ayahnya, Alex Noerdin

Farid mengenal Taib saat ia menjadi Kalapas Klas I Merah Mata Palembang pada periode 2014-2015.
Di situlah Farid mulai dekat dan pada akhirnya bisa membuat Taib berubah.

Taib mengisahkan, ia awalnya tidak mengetahui apa-apa soal Islam.

Dia hanya memiliki keinginan untuk memperdalam ilmu Islam.

Maka masuklah ia pada komunitas yang ternyata di dalamnya terdapat orang-orang yang mengarahkan pada paham radikalisme.

Diakui Taib, saat itu ia masih tidak mengetahui apa-apa soal jihad.

Minimnya pengetahuannya itu dimanfaatkan kelompok ekstrimis untuk menanamkan radikalisme melalui embel-embel jihad.

Bahkan Taib pernah berkomunikasi dengan buronan teroris saat itu Noordin M Top.

Ia pun dicekokin soal jihad yang salah arah oleh Noordin M Top.

Seiring berjalannya waktu, Taib merencanakan pengeboman.

Baca: Bekuk PSMS 3-0 di Medan, Bojan Malisic: Kemenangan Tandang yang Pantas Buat Persib

Ia memerintahkan bawahannya untuk melakukan pengeboman di sebuah cafe di Bukit Tinggi.

"Saya pernah berniat mengebom cafe di Bukit Tinggi karena banyak turis orang kafir. Ketika mau diledakkan, di kafe itu ada wanita berhijab yang masuk. Akhirnya kami batal, bomnya off dan dibawa pulang," terang Taib.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved