Sabtu, 30 Mei 2026

Pentingnya Kemitraan Agar Pembangunan Di Papua Berjalan Maksimal

Diperlukan kolaborasi, sinergi, dan kemitraan antara pemangku kepentingan agar pembangunan Papua dapat berjalan maksimal.

Tayang:
Editor: Adi Suhendi
youtube
Ilustrasi: Infrastruktur di Papua 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Diperlukan kolaborasi, sinergi, dan kemitraan antara pemangku kepentingan agar pembangunan Papua dapat berjalan maksimal.

Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) Apolo Safanpo juga menekankan pentingnya semangat kemitraan sebagai satu jalan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat Papua.

“Dalam membangun Papua, pendekatan kemitraan ini menekankan masyarakat Papua yang harus berdaya, karena tidak mungkin orang lain yang membuat masyarakat Papua sejahtera. Rakyat Papua harus berdaya dan orang lain membantu sebagai mitra,” kata Apolo.

Baca: Tiongkok Berharap Pertemuan Trump dan Kim Hasilkan Denuklirisasi Korea

Pandangan tersebut disampaikan Apolo dalam talkshow berjudul “Kemitraan Multi Pihak untuk Pembangunan Berkelanjutan di Papua” yang diselenggarakan Universitas Cenderawasih bekerjasama dengan lembaga Partnership-ID didukung PT Freeport Indonesia Rabu (30/5/2018).

Acara yang dilaksanakan di Auditorium Rektorat Universitas Cenderawasih tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan pembangunan Papua dari berbagai sektor dan instansi/lembaga.

Diantaranya pemerintah daerah, perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Papua, akademisi serta mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta organisasi masyarakat sipil (CSO).

Pendiri Partnership-ID, Erna Witoelar yang memberikan keynote speech dalam acara tersebut mengatakan bahwa pembangunan Papua akan mendapatkan manfaat dari kemitraan multi pihak berbasis Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau yang dikenal dengan Sustainable Development Goals (SDGs).

Baca: Enam Kuburan Wanita Tionghoa di Citeurup Dibongkar Orang Tak Dikenal

“Sekarang mungkin belum begitu terlihat, namun ke depan akan makin banyak aspirasi dari Papua mewarnai pelaksanaan SDGs dengan banyaknya kemitraan yang dijalankan dengan baik di sini.,” tutur mantan Menteri Pemukiman dan Pengembangan Wilayah ini.

Erna yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Millenium Development Goals (MDGs) Asia Pacific ini mengajak seluruh pihak berkepentingan di Papua, untuk bekerjasama dan berkontribusi guna mewujudkan tujuan pembangunan tersebut.

Hal tersebut penting sebagai upaya untuk mengakhiri kemiskinan, melindungi lingkungan hidup, dan memastikan semua orang menikmati kemakmuran dan kedamaian.

“Pembangunan di Papua merupakan tanggung jawab semua pihak, mencakup Pemerintah, dunia usaha, lembaga swadaya masyarakat, universitas, dan komunitas setempat, dan sudah selayaknya ada sinergi dan kemitraan dengan para pihak yang berkepentingan,” katanya.

Vice Presiden Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama yang turut memberikan sambutan dalam talkshow tersebut mengamini pesan Rektor Apolo.

Baca: 10 Potret Penampilan Orang-orang Abad Pertengahan Seandainya Mereka Masih Hidup Sekarang

Menurut Riza kemitraan yang dijalankan dengan baik adalah modal untuk Papua lebih maju lagi.

“Freeport menyadari bahwa kemitraan sangat penting untuk mendorong kesejahteraan rakyat Papua serta mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan yang diidamkan," katanya.

Lanjut dia, dulu, ketika Freeport datang mulai bekerja di Papua pada tahun 1967 tak ada mitra lain yang bisa diajak bekerjasama.

Untuk itu pihaknya membangun sendiri apa yang dianggap perlu dengan membangun berbagai sarana dan infrastruktur seperti klinik, rumah sakit dan sekolah.

"Ketika akhirnya mulai ada mitra yang bisa diajak berkolaborasi, kami membangun kemitraan. Berdasarkan pengalaman, tanpa peran serta dan partisipasi aktif pemangku kepentingan dalam program, hasil yang dicapai menjadi tidak maksimal dan berdampak pada efektivitas program,” papar Riza.

Sejak lama Freeport Indonesia mengadopsi konsep pembangunan berkelanjutan sebagai bagian integral operasi perusahaan.

Menurutnya kontribusi Freeport dimaksudkan menjadi stimulus bagi pembangunan yang berkelanjutan dan bukan sekedar hibah.

Erna Witoelar menegaskan pentingnya pemilihan sektor prioritas dalam menjalankan SDGs.

Pemilihan sektor prioritas yang relevan dengan isu dan tantangan yang dihadapi dapat menjadi alternatif solusi terhadap permasalahan yang terjadi.

Contohnya Freeport yang membangun Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) dengan sukses memilih fokus kemitraan pada sektor pendidikan dan penciptaan lapangan kerja.

IPN ini bisa dikembangkan kemitraannya karena IPN fokusnya menyediakan tenaga kerja yang memiliki skill tinggi yang tidak semuanya harus masuk ke Freeport.

Menurutnya hal itu bisa menjadi fokus prioritas bersama di Papua karena semuanya mendapatkan keuntungan dengan keberadaan IPN.

"Kampus-kampus lain bisa datang ke IPN untuk berkerjasama dan mempercepat kemajuan sumberdaya manusia Papua untuk sektor pertambangan,” terang Erna.

Senior Manager Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN) Soleman Faluk yang menjadi salah satu pembicara menjelaskan usaha IPN dan Freeport untuk bermitra dengan masyarakat dalam menyiapkan tenaga terampil di sektor pertambangan.

“Kalau kami berjalan sendiri tak akan berjalan maksimal bagi peningkatan SDM. Padahal potensi industri tambang sangat terbuka untuk anak-anak muda Papua," katanya.

Lanjut dia, IPN menyambungkan anak didik dengan mitra di lembaga pendidikan formal serta perusahaan-perusahaan yang ada.

Umumnya perusahaan-perusahaan ingin orang Papua yang bagus dan disiplin serta memiliki skill yang bagus.

"IPN tidak hanya mendidik skill peserta didik, tapi juga melakukan pendidikan karakter agar sesuai dengan kebutuhan profesional yang diharapkan oleh perusahaan tempatnya bekerja nanti,” terang Soleman.

Soleman menjelaskan IPN adalah lembaga non formal pendidikan yang didirikan tahun 2003 sebagai bagian dari salah satu wujud tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dalam bidang pengembangan SDM Papua.

IPN memiliki 16 program atau jurusan dan disertai program pengembangan berbasis kompetensi.

Hingga tahun 2018 total peserta yang diterima dan dikembangkan di IPN sebanyak 4000 siswa.

Mantan Menteri Lingkungan Hidup yang juga Mantan Rektor Universitas Cenderawasih Balthasar Kambuaya menyampaikan bahwa dalam kemitraan harus memiliki tujuan yang sama.

Menurutnya Pembangunan Papua yang berkelanjutan tak mungkin dikerjakan satu orang.

Dalam membangun kemitraan itu harus didasarkan pada rasa saling percaya dan semangat untuk saling menguntungkan.

"Saya beri contoh di Uncen ini ada ada Freeport Corner. Itu adalah kerjasama yang kami lakukan dengan Freeport atas dasar kemitraan yang memiliki satu tujuan bersama dan mengedepankan kepentingan bersama,” kata Balthasar.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved