Breaking News:

Sarwono Menolak Ajakan Soeharto untuk Menjadi "Orang Cendana"

karena tak sekali pun Pak Harto mengucapkan ajakan masuk 'inner circle'. Apalagi, Sarwono adalah bawahan Presiden.

zoom-inlihat foto Sarwono Menolak Ajakan Soeharto untuk Menjadi
ISTIMEWA/BAMBANG PUTRANTO
Sarwono Kusumaatmaja.

Sudharmono kemudian mengungkapkan pengalamannya sebagai 'orang dalam'. "Saya sebagai Mensesneg pernah menjadi orang dalam. Bebannya berat. Banyak yang kita ketahui, tetapi kita harus tutup mulut. Kadang-kadang ada perintah Presiden yang harus kita laksanakan, padahal hati kecil kita mempertanyakan perintah itu. Beliau juga kadang memberikan arahan yang perlu penafsiran yang tepat, dan dalam hal itu bukan perkara gampang,” demikian kata Pak Dhar.

"Silakan memilih yang terbaik. Saya hanya ingin ingatkan, tidak mudah menjadi orang dalam. Beban mentalnya berat. Kalau tidak kuat menanggung beban tersebut kita bisa mengalami disorientasi
dan perilaku kita bisa menjadi aneh,” tambah Pak Dhar lagi.

Sarwono kemudian menemui Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Benny Moerdani. Ternyata jawaban Benny mirip dengan uraian Sudharmono.

Setelah mendapat masukan dari dua seniornya tersebut, Sarwono melakukan permenungan cukup lama. Akhirnya, ia sampai pada keputusan bahwa tidak mau menjadi 'orang Cendana'.

"Setelah saya renungkan baik-baik, saya memutuskan tetap berada di Koridor Tengah. Bagaimanapun, berada dalam posisi ini saya akan dapat selalu menjaga jarak dengan kalangan elite puncak politik. Di situ saya hanya bekerja dalam batas mandat yang diberikan, tentunya dengan sentuhan kreativitas dan pendekatan sistem," begitu keputusan Sarwono.

Masalah berikutnya adalah bagaimana cara Sarwono menyampaikan sikapnya itu kepada Pak Harto. Jelas dia tidak bisa langsung menyampaikan kata menolak, karena tak sekali pun Pak Harto mengucapkan ajakan masuk 'inner circle'. Apalagi, Sarwono adalah bawahan Presiden.

Kesempatan untuk menyampaikan sikap itu pun akhirnya tiba, ketika dalam pertemuan berdua Pak Harto bercerita mengenai hal-hal yang bersifat pribadi. Inilah kesempatan itu, pikir Sarwono.

"Pak Harto, saya merasa mendapat banyak hal dalam diskusi selama ini,” begitu ucapan saya kepada Pak Harto. ”Tapi, mohon maaf, saya tidak terbiasa bercakap tentang hal-hal yang terlalu pribadi. Lagi pula Bapak belum memberikan arahan kepada saya selaku menteri, padahal beberapa laporan sudah saya sampaikan”.

Sekilas wajah Pak Harto terlihat berubah mengeras. Kemudian beliau katakan, ”Silakan minum.”
Setelah berbasa-basi sejenak, saya pun pamit. Alangkah leganya perasaan saya saat itu.

Beberapa waktu kemudian, ketika Sarwono kembali memohon waktu untuk bertemu Presiden, ia diberi waktu pukul 10 pagi di Bina Graha, kantor resmi Presiden, bukan di Cendana lagi. Menurut Sarwono, suasana pertemuan tampak sudah berbeda. Dalam kesempatan tersebut, Presiden memberi arahan tentang pelaksanaan Pengawasan Melekat.

Sejak saat itu, tak pernah sekali pun Soeharto mengundang Sarwono ke Cendana untuk berbincang berdua.

Editor: Rachmat Hidayat
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved