Korupsi KTP Elektronik

Usai Sebut Nama Anggota DPR yang Terima Fee Proyek e-KTP, Irvanto Mengaku Diteror

Ancaman itu diungkap Irvanto diterima keluarganya usai dia memaparkan sejumlah anggota DPR yang diduga menerima fee dari proyek e-KTP.

Usai Sebut Nama Anggota DPR yang Terima Fee Proyek e-KTP, Irvanto Mengaku Diteror
Tribunnews/JEPRIMA
Terdakwa kasus korupsi KTP elektronik Irvanto Hendra Pambudi saat mengikuti sidang tuntutan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Selasa (6/11/2018). Keponakan mantan Ketua DPR Setya Novanto tersebut bersama Made Oka Masagung dituntut 12 tahun penjara dengan denda Rp1 miliar subsider enam bulan penjara atas keterlibatannya dalam korupsi proyek KTP elektronik. Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dalam pembacaan nota pembelaan atau pledoinya,
terdakwa kasus korupsi proyek e-KTP, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo, mengaku mendapat ancaman dari orang yang tidak dikenal.

Ancaman itu diungkap Irvanto diterima keluarganya usai dia memaparkan sejumlah anggota DPR yang diduga menerima fee dari proyek e-KTP.

Sebelumnya dalam persidangan, Irvanto sempat mengaku memberikan uang terkait proyek e-KTP ke sejumlah anggota DPR. Selain itu, Irvanto juga mengaku membelikan tas Hermes untuk mantan Sekjen Kemendagri, Diah Anggraini.

"Setelah nama-nama anggota DPR yang telah menerima uang dari proyek e-KTP disebut, pada suatu malam rumah saya telah di lempari botol oleh orang yang tidak dikenal, dan ancaman-ancaman secara verbal," tegas Irvanto, Rabu (21/11/2018) di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Irvanto mengatakan sejumlah teror itu telah membuat keluarganya khawatir, sehingga ia meminta perlindungan keamanan kepada KPK pada April 2018.

Mantan Direktur Operasional PT Murakabi Sejahtera itu juga menegaskan pemberian uang kepada sejumlah anggota DPR terkait fee proyek e-KTP adalah benar.

Baca: ‎Kunci Hilang, Polisi Buka Paksa Rumah Diperum Saat Rekonstruksi Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi

"Artinya tidak mungkin keterangan saya mengada-ada karena yang saya pertaruhkan adalah keselamatan keluarga saya," imbuh Irvanto.

Diakhir pledoinya, ‎Irvanto meminta majelis hakim memutus pidana yang rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum. Hal ini karena dia merasa hanya menjadi perantara pemberian uang dan sama sekali tidak menerima keuntungan dari proyek e-KTP.

Dalam perkara ini, Irvanto bersama Made Oka Masagung dituntut 12 tahun penjara karena dinilai terbukti menjadi perantara suap untuk mantan Ketua DPR RI Setya Novanto dalam proyek e-KTP. Mereka dinilai telah memperkaya Setya Novanto sebesar USD 7.3juta.

Berikut lampiran keterangan Irvanto soal pembagian uang ke anggota DPR RI terkait proyek e-KTP :

Halaman
12
Penulis: Theresia Felisiani
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved