Kerja Keras Seorang Guru Dibalik Pendidikan Anak-Anak Papua

Untuk mengenang jasa tersebut, Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) mengapresiasi mereka, yang telah memberikan dedikasinya

Kerja Keras Seorang Guru Dibalik Pendidikan Anak-Anak Papua
Istimewa
Anak-anak sekolah dasar di Papua. 

Terpujilah wahai engkau, ibu bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.

Mungkin anda masih ingat dengan sebaris lirik dari lagu “Hymne Guru” karya Sartono ini.

Lagu ini sering kita dengar di tengah upacara sekolah, untuk mengenang jasa-jasa guru. Terkadang kita lupa bahwa ada segelintir guru berprestasi yang tidak pernah meninggalkan murid-muridnya berjuang sendiri.

Untuk mengenang jasa tersebut, Kemendikbud (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) mengapresiasi mereka, yang telah memberikan dedikasinya selama bekerja sebagai tenaga kerja pendidik. Salah satu bentuk penghargaan yang diberikan adalah satya Lencana Pendidikan.

Lalu, siapa yang sudah bekerja keras di balik pendidikan Indonesia? Berikut salah satunya.

Willem Parkai, Kepala Sekolah SD YPK Ambumi

kemendikbud-271118-1
Willem Parkai merupakan Kepala Sekolah SD YPK Ambumi. Mengajar sebanyak 98 siswa, Willem hanya dibantu oleh dua tenaga pendidik saja.

Mengajar sebanyak 98 siswa, Willem hanya dibantu oleh dua tenaga pendidik saja. Berlokasi di Teluk Wondama, Papua Barat, sekolah dasar yang menjadi tempat nafkahnya memang jauh dari kata sempurna.

“Jujur saja, perkembangan anak di sekolah saya belum mencapai keberhasilan yang baik. Hal ini juga disebabkan karena tenaga guru yang kurang, itupun tidak ada basic mengajar jadi kami hanya ambil dari SMK atau anak SMP untuk bantu-bantu.” cerita Willem.

Saat diwawancarai Tribunnews.com, ia pun mendeskripsikan kondisi sekolahnya.

“Secara prasarana, sekolah kami tidak memiliki alat peraga, bangunan tapi sudah direnovasi tahun 2017. Jangankan alat peraga, buku panduan untuk guru saja tidak ada. Saya pakai metode sederhana saja untuk mengajar, dengan menyanyi dan menari bersama,” tambahya.

Meski kekurangan sarana mengajar, Willem mampu mengurangi angka buta huruf di daerahnya. Ia hanya menggunakan pendekatan melalui pengejaan huruf. Tak lupa, Willem tetap menyemangati anak-anak Papua agar selalu disiplin.

Willem berharap, pendidikan pusat bisa bekerjasama dengan guru-guru di daerah. Tak hanya sampai di luaran saja, tetapi juga ke akarnya. Karena dengan kerja sama, masyarakat kecil mendapat perhatian lebih dan bisa membangun negara ini.

Mendengar dirinya dinobatkan sebagai guru berprestasi, Willem merasa senang karena bisa menjadi inspirasi untuk guru-guru lain yang ada di pedalaman.

Ia pun mendapat tanda kehormatan Satyalencana dari Kemendikbud atas pengabdian dan dedikasinya yang tinggi dalam mengajar serta meningkatkan partisipasi masyarakat, sehingga dapat mengurangi angka buta huruf dan putus sekolah di Kabupaten Teluk Wondama Provinsi Papua Barat.

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved