Breaking News:

Tsunami di Banten dan Lampung

Warga Serang Kini Dicekam Banjir Pasca Tsunami

Sebanyak 25 orang meninggal dunia, 62 orang luka-luka, 68 orang hilang dan 83 orang mengungsi. Kerusakan fisik masih dilakukan pendataan.

Editor: Choirul Arifin
BNPB
Sejak Rabu (26/12/2018) pagi, pemukiman masyarakat Desa Batukuwung dan Desa Citasuk Kecamatan Padarincang Kabupaten Banten terendam banjir. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sebagian masyarakat Kabupaten Serang Provinsi Banten, kembali dilanda bencana. Jika sebelumnya masyarakat dicekam ketakutan menghadapi bahaya tsunami.

Warga Kabupaten Serang yang berada di pantai Kecamatan Cinangka dan Anyer diterjang tsunami.

Sejak Rabu (26/12/2018) pagi, pemukiman masyarakat Desa Batukuwung dan Desa Citasuk Kecamatan Padarincang Kabupaten Banten terendam banjir

Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB menyatakan, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan meluapnya sungai Cikalumpang di Kabupaten Serang dan membuat banjir melanda permukiman.

Dampak banjir sebanyak 297 KK / 1.658 jiwa terdampak dan mengungsi di SDN Suka Maju sedangkan 70 KK / 160 jiwa mengungsi ditempat yang aman di Ds. Batukuwung. Sekitar 200 unit rumah terendam banjir dengan tinggi banjir 50 -100 cm.

BPBD Serang bersama TNI, Polri, SKPD dan relawan melakukan evakuasi. Bantuan logistik diberikan kepada masyarakat terdampak banjir. Tidak ada korban jiwa dari banjir yang terjadi.

Sementara itu, penanganan darurat tsunami yang menerjang Pantai Anyer dan Cinangka di wilayah Serang masih dilakukan.

Baca: Suasana Haru Menyelimuti Acara Tahlilan di Kediaman Gitaris Seventeen, Herman Sikumbang

Sebanyak 25 orang meninggal dunia, 62 orang luka-luka, 68 orang hilang dan 83 orang mengungsi. Kerusakan fisik masih dilakukan pendataan.

Evakuasi, pencarian, dan penyelamatan korban terus dilakukan. Penanganan pengungsi dan layanan kesehatan juga dilakukan. Aparat gabungan bersama relawan dan masyarakat mulai membersihkan lingkungannya dari puing-puing bekas tsunami.

Wilayah Serang memang rawan bencana, baik gempa, tsunami, banjir, kekeringan dan puting beliung. Pembangunan hendaknya benar-benar mengindahkan peta bahaya bencana ke dalam tata ruang dan diimplementasikan secara ketat.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved