Breaking News:

Pertama Di Indonesia, BPPT dan Pemprov DKI Bersinergi Bangun PLTSa Bantargebang

Mendorong pembangunan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) pertama di Indonesia, BPPT) pun bersinergi dengan Pemprov DKI

Tribunnews/Fitri Wulandari
Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza saat melakukan peninjauan terkait pembangunan Pengolahan Sampah Termal di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (12/2/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, BEKASI - Mendorong pembangunan fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) pertama di Indonesia, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pun bersinergi dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI melalui Dinas Lingkungan Hidup DKI.

Optimalisasi pengolahan sampah menjadi energi dalam penciptaan PLTSa di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat itu pun diharapkan bisa menjadi rujukan agar bisa dibangun di tengah kota.

Model PLTSa tersebut juga nantinya harus dilakukan pengkajian agar kelak bisa diperoleh model terbaik untuk penerapan di kota-kota besar lainnya di Indonesia.

Perlu diketahui, hal yang paling penting dari pemilihan model PLTSa yang tepat adalah mengacu pada tingkat kesesuaian antara model dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

"Jadi model PLTSa ke depan kalau mau dibangun di tengah kota, yang terpenting adalah bagaimana ini PLTSa dapat diterima oleh masyarakat sekitarnya nanti. Hal inipun merupakan penunjang dari society 5.0," ujar Hammam, di TPA Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (12/2/2019).

Dalam kesempatan yang sama, hadir pula Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Isnawa Adji yang turut mendampingi dalam tinjauan di TPA tersebut.

Ia pun mendorong agar seluruh kota yang memiliki permasalahan mengenai sampah, untuk menggandeng lembaga yang berfokus pada bidang teknologi itu.

Pembangunan PLTSa, ia anggap sebagai solusi yang sangat cocok untuk mengatasi permasalahan sampah yang terkadang membuat 'pusing' para stake holder terkait.

Teknologi termal bisa secara cepat mereduksi volume sampah tersebut menjadi energi.

"Ke depan kota-kota yang mempunyai permasalahan sampah sudah saatnya membangun PLTSa dan referensi saya adalah dengan menggandeng BPPT," kata Isnawa.

TPA Bantargebang, kata dia, memiliki luas 110 Ha dan menampung sampah sebanyak hampir mencapai 7.000 ton setiap harinya.

Dengan banyaknya volume sampah tersebut, tentunya ia meyakini bahwa solusi penerapan teknologi termal melalui pembangunan PLTSa, bisa mengatasi 'rumitnya' masalah yang dihadapi Pemprov DKI selama beberapa tahun terakhir.

"Saya atas nama pemprov DKI Jakarta mengucapkan terimakasih kepada BPPT atas kerjasamanya, memberikan kepastian, legacy bahwa BPPT mampu membangun PLTSa pertama di indonesia," tegas Isnawa.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sugiyarto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved