MUI Pusat Didesak Copot KH Manahar Mukhtar dari Jabatan Ketua MUI DKI Jakarta

Munahar Mukhtar sebagai ketua MUI DKI Jakarta dinilai telah menarik Lembaga MUI sebagai alat politik

MUI Pusat Didesak Copot KH Manahar Mukhtar dari Jabatan Ketua MUI DKI Jakarta
Tribunnews/JEPRIMA
Jemaah Munajat 212 saat melaksanakan kegiatan sholawat dan dzikir nasional Aksi Malam Munajat 212 di Monas, Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019). Kegiatan Munajat 212 dan zikir bersama tersebut bertujuan untuk mempererat persatuan semua elemen bangsa Indonesia. (Tribunnews/Jeprima) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Forum Ukhuwah Pengurus dan Imam Masjid Jakarta  (FURUIA) & Insan Hafidz Kampus Al-Qurab PTIQ Jakarta (IHKAP) mendesak MUI Pusat mencopot Manahar Mukhtar dari jabatannya sebagai Ketua MUI DKI Jakarta.

Berangkat dari peristiwa acara munajat 212 yang dilaksanakan di Monas pada kamis 21 februari  2019 telah meresahkan banyak pihak.

"Acara bertajuk doa bersama tersebut terindikasi menjadi  ajang kampanye salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden," kata Ketua Insan Hafidz PTIQ dan Forum Ukhuwah Imam Jakarta, Muhammad Irfan di Jakarta, Senin (25/2/2019).

Terlebih lagi, kata dia banyak ulama dan tokoh, ustadz dan masyarakat menyayangkan bahwa
penyelenggara acara tersebut diselenggarakan oleh ketua MUI DKI Jakarta.

Banyak penilaian  dari public acara munajat 212 yang digelar di Monas, Kamis (21/2/2019) tersinyalir menjadi acara kampanye politik sehingga menunjukan Munahar Mukhtar sebagai ketua MUI DKI Jakarta telah menarik Lembaga MUI sebagai alat  politik.

Fakta sudah menunjukkan Munahar Mukhtar telah melakukan pelanggaran atas  AD/ART dan tujuan utama MUI sebagai wadah dari ulama dan para cendikiawan muslim yang
membimbing dan mengayomi umat Islam secara independent.

Bahkan telah memunculkan  kekhawatiran, sikap ketidakpercayaan terhadap lembaga MUI dan kehormatan pada ulama di  dalamnya.

Baca: Polisi Cari Petunjuk Usut Kasus Persekusi Terhadap Jurnalis Saat Acara Munajat 212

"Kami menilai, menjadikan agama sebagai alat politik adalah sikap merendahkan nilai agama karena menempatkan agama di bawah politik dan dukungan kepada salah satu pasangan calon
dalam pilpres," katanya.

Sebelumnya, MUI DKI Jakarta membantah turut serta dalam acara Munajat 212 yang diselenggarakan di Monas, kamis (21/2) lalu.

MUI menyelenggarakan Senandung Salawat dan Dzikir Nasional' bukan 'Munajat 212'.

Melalui keterangan tertulis, KH Munahar Muchtar menegaskan kegiatan Senandung Salawat dan Dzikir Nasional'sifatnya uhasabah bersama dan berupaya menyejukkan suasana melalui dzikir bersama.

"Kita berkumpul, memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk menghadirkan kebaikan bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia kita tercinta," ujarnya. 

Hal yang senada disampaikan Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi MUI DKI Jakarta Faiz Rafdhi menyebut acara yang digelar MUI  tidak mengundang tokoh politik, baik Ketum PA 212 Slamet Ma'arif maupun tokoh politik lainnya.

Berbeda dengan penjelasan MUI DKI Jakarta, backdrop yang dipasang di panggung bertuliskan 'Malam Munajat'. Backdrop yang memasang foto Imam Besar FPI Habib Rizieq itu juga bertuliskan 'Bersama MUI DKI Jakarta dan Majelis Ta'lim Se -Jabodetabek'.

Selain itu, dalam acara itu, MC juga berulang kali menyatakan acara di Monas tersebut merupakan acara Munajat 212.

Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved