Breaking News:

Penyidik KPK Diteror

Kasus Penyiraman Air Keras Terhadap Novel Baswedan Dibawa ke Pertemuan Dewan HAM PBB

Kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan dibawa ke pertemuan Human Right Council (Dewan HAM PBB)

Tribunnews.com/ Gita Irawan
Manager Team Growth and Community Engagement Amnesty International Indonesia Ken Matahari saat konferensi pers 700 Hari Belum Terungkapnya Kasus Penyerangan Novel Baswedan di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta pada Selasa (12/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Gita Irawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Manager Team Growth and Community Engagement Amnesty International Indonesia, Ken Matahari mengatakan pihaknya telah membawa kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan ke pertemuan Human Right Council (Dewan HAM PBB) keempat puluh di Jenewa, Swiss pada Februari 2019 lalu.

Selain itu pihaknya juga telah berkomunikasi dengan Ambasador Indonesia untuk Jenewa.

Baca: Tim Kuasa Hukum Akan Ungkap Nama Jenderal yang Diduga Terlibat dalam Penyerangan Novel Baswedan

Hal itu diungkapkan Ken saat konferensi pers 700 Hari Belum Terungkapnya Kasus Penyerangan Novel Baswedan di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

"Kita sudah bawa kasus ini ke international untuk meningkatkan monitoring dan tekanan yang ada agar kasus ini diselediki sampai selesai," kata Ken.

Baca: Maruf Amin Temui Jokowi di Istana Kepresidenan

Ken mengatakan, dibawanya kasus penyerangan terhadap Novel tersebut bukanlah tahap final advokasinya di tingkat internasional.

"Tentunya ini bukan tahap final untuk advokasi International karena ini masih dalam tahap kita meningkatkan proses monitoring dari globalnya," kata Ken.

Pihaknya pun membuka kemungkinan untuk membawa kasus tersebut ke forum internasional lainnya tergantung pada perkembangan kasus tersebut di Indonesia.

Baca: Sesepuh Ponpes Lirboyo Keluarkan Maklumat untuk Santri dan Alumni Agar Dukung Jokowi-Maruf Amin

"Itu mungkin tergantung dari eskalasi yang diperlukan. Kalau memang terjadi eskalasi seperti ini yang lebih besar, mungkin kita akan memobilisasi supporter-supporter kita di negara lain untuk berkomunikasi kepada komunitas diplomat imternasional supaya tekanannya semakin besar," kata Ken.

Ia juga mengatakan pihaknya akan terus memantau perkembangan penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap Novel.

"Karena kita juga harus terus memantau, kalau situasinya semakin baik berarti bagus, kita akan kawal terus. Tapi kalau memburuk berarti kita akan eskalasi lebuh lanjut," kata Ken.

Penulis: Gita Irawan
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved