PRPM Tuntut Perubahan, Dirjen Peternakan Berharap Produk Unggas Bisa Diekspor

Di hadapan puluhan pelaku usaha unggas, I Ketut membuka diri mendengarkan keluh kesah dan masukan.

PRPM Tuntut Perubahan, Dirjen Peternakan Berharap Produk Unggas Bisa Diekspor
Reynas Abdila
Perjuangan Peternak Rakyat dan Peternakan Mandiri (PRPM) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan pemerintah akan jalan berbarengan dalam menuntaskan persoalan unggas dengan Perjuangan Peternak Rakyat dan Peternakan Mandiri (PRPM).

Hal itu dikatakan saat peresmian PRPM yang fokus terhadap perbaikan negeri dan menciptakan satu juta UMKM perunggas.

"Pak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) menekankan untuk kita sama-sama selesaikan, mencari solusi. Saya ingin secepatnya produk unggas bisa kita ekspor agar kita tidak berebut di lahan becek," kata I Ketut di Gedung Joang 45, Jakarta, Senin (8/4/2019).

Di hadapan puluhan pelaku usaha unggas, I Ketut membuka diri mendengarkan keluh kesah dan masukan.

Baca: Petugas Kebersihan Pondok Pesantren yang Tewas Mengambang 17 Hari di Septic Tank, Baru Menikah

"Terus terang saya tidak mau perunggasan kita judulnya itu-itu saja harga ayam hidup dan harga telur. Kita semua harus bersama-sama bila perlu saya yang pimpin perjuangan ini, baik dari organisasi semua untuk mencari jalan terbaik," tambahnya.

Pimpinan PRPM Sugeng Wahyudi berharap asosiasi peternak seluruh Indonesia ikut serta dalam memenuhi ketercukupan kebutuhan pangan barang dan jasa asal unggas secara mandiri, berdaya saing dan berkelanjutan.

Asosiasi peternak yang sebelumnya telah memiliki embrio, ia ingin mengembangkan sumber daya unggas bagi kesejahteraan peternak dan masyarakat serta ingin adanya kepastian hukum dan berusaha budidaya unggas.

Menurut Sugeng, kondisi peternak dalam tujuh bulan terakhir merupakan masa sulit bagi usaha budidaya ayam broiler, khususnya di triwulan 2019 harga ayam hidup jauh dibawah Harga Pokok Produksi (HPP).

“Dengan HPP di atas budidaya pabrikan membuat usaha PRPM semakin kesulitan. Ditambah harga input produksi yakni harga DOC (Day Old Chick) dan harga pakan yang cenderung selalu naik,” paparnya.

Data yang dirilis oleh Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) harga DOC dan pakan selalu menyentuh angka minimal Rp.6.700 (harga DOC) dan Rp.7.400 (harga pakan) sementra harga ayam hidup terus anjlok diharga terendah Rp.11.500 (ayam ukuran 1.6 kg up).

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved