Lebaran 2019

Sejarah dan Tradisi Makan Ketupat di Hari Raya Idul Fitri

"Ketupat ini dari tradisi lisan (cerita rakyat) mulai familiar saat Sunan Kalijaga dan nilai filosofinya tak ada kaitannya dengan Islam," kata Rojil

Sejarah dan Tradisi Makan Ketupat di Hari Raya Idul Fitri
TRIBUN JABAR/TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Diki (32) pedagang kulit ketupat melayani pembeli di Jalan Panjunan, Kota Bandung, Senin (3/6/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum untuk berkumpul bersama keluarga besar. Salah satu yang tak terpisahkan dari perayaan ini biasanya adalah makan bersama. 

Hidangan yang identik menemani Lebaran adalah ketupat. Ketupat menjadi makanan yang selalu ada di meja makan di masa Lebaran. Terbungkus apik dengan janur berwarna hijau kekuningan, ketupat sangat cocok dipadukan dengan masakan berkuah lainnya. 

Namun, ada makna yang terkandung dalam ketupat yang sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Muslim di Nusantara. Ada filosofi kuat, kenapa tradisi memakan ketupat saat Lebaran masih dilaksanakan sampai sekarang. 

Sejarawan Universitas Padjadjaran Bandung, Fadly Rahman, mengungkapkan bahwa awalnya ketupat bukan identik dengan tradisi Islam atau Lebaran.

"Ketupat sudah ada pada masa pra-Islam dan tersebar di wilayah hampir di Asia Tenggara dengan nama yang berbeda-beda. Selain itu, ketupat juga identik dengan tradisi animisme," ujar Fadly kepada Kompas.com, Kamis (30/5/2019). 

Baca: Presiden AS Donald Trump Beri Ucapan Selamat Idul Fitri kepada Umat Muslim

Dulu masyarakat agraria yang tersebar di Nusantara memiliki tradisi menggantung ketupat di tanduk kerbau untuk mewujudkan rasa syukur karena panen yang dihasilkan. Tak berhenti di situ, sampai sekarang juga masih ada tradisi dari masyarakat Indonesia yang melakukan tradisi yang sama dengan menggantungkan ketupat. 

Baca: Masyarakat Arab Saudi Rayakan Idul fitri Hari Ini

Bedanya, mereka menggantungkan ketupat yang masih kosong di depan pintu rumah untuk menolak bala atau pengaruh negatif yang masuk. 

Pengaruh Sunan Kalijaga 

Pada abad ke-15 dan ke-16, Sunan Kalijaga sebagai salah satu pendakwah di Pulau Jawa menggunakan budaya untuk menyiarkan agama Islam. Ajaran Islam yang disyiarkan oleh Sunan Kalijaga terbilang berhasil karena melalui pendekatan yang banyak perhatian masyarakat. 

Menurut Fadly, karena ketupat identik dengan masyarakat agraria, Sunan Kalijaga mengkreasikan makanan itu sebagai kuliner yang khas dengan momen Lebaran. 

Baca: Ikuti Jejak Facebook and Google, Apple Juga Siapkan Fitur Privasi untuk Pengguna

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved