Kementerian Luar Negeri: Meski Singkat, Pertemuan Jokowi dengan PM Abe Sesuai Target

Sebagaimana di forum-forum kerjasama multilateral, tuan rumah selaku chair (pimpinan sidang) selalu disibukkan dengan memimpin jalannya persidangan.

Kementerian Luar Negeri: Meski Singkat, Pertemuan Jokowi dengan PM Abe Sesuai Target
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Presiden Indonesia Joko Widodo (kiri) dan PM Jepang Shinzo Abe (kanan) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Srihandriatmo Malau
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Kementerian Luar Negeri (Kemlu) memberikan klarifikasi mengenai kabar yang sedang ramai dibahas mengenai satu menit pertemuan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Perdana Menteri Jepang di sela KTT G20 di Osaka, Jepang beberapa waktu lalu.

Direktur Jenderal Kerja Sama Multilateral Kementerian Luar Negeri RI, Febrian Ruddyard menjelaskan, sebenarnya jelang keberangkatan ke Jepang, banyak Kepala Pemerintahan/Negara ingin bertemu khusus, melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Baca: Singgung Menteri di Kabinetnya, Jokowi: Mungkin Bisa Diwarnai Anak-anak Muda

Namun, tidak semua bisa dipenuhi, selain karena padatnya jadwal persidangan juga karena sulitnya mencarikan kecocokan waktu antara para pemimpin. Dirjen Multilateral menjelaskan, Presiden Jokowi tiba pada tanggal 28 Juni 2019, beberapa jam sebelum persidangan dimulai.

"Saat itu ada perubahan jadwal kedatangan Pak Jokowi, yang harusnya tiba di Jepang pada 27 Juni, tapi baru tiba di Osaka tanggal 28 Juni, karena ada pembacaan keputusan Mahkamah Konstitusi," ujar Dirjen Multilateral dalam keterangan tertulisnya kepada Tribunnews.com, Selasa (2/7/2019).

Baca: Calon Menteri Jadi Isu Hangat, Sejumlah Nama Beredar, Tanggapan Jokowi Hingga Peluang Demokrat

Karena tiba beberapa jam sebelum persidangan dimulai, maka pertemuan dengan PM Abe yang sebelumnya sudah dijadwalkan turut berubah juga. Dari rencana awal pada 27 Juni, jadwal pertemuan dua kepala negara terpaksa harus diganti ulang.

Sebagaimana di forum-forum kerjasama multilateral, tuan rumah selaku chair (pimpinan sidang) selalu disibukkan dengan memimpin jalannya persidangan.

"Jepang itu adalah tuan rumah, jadi harus spare time (memberikan waktu) juga dengan pemimpin dunia lain. Namun, walaupun hanya sebentar, PM Abe bertemu dengan Presiden Jokowi karena menganggap Indonesia sebagai salah satu mitra penting mereka," tegasnya.

Sekalipun tidak bertemu secara bilateral formal, Presiden Jokowi melakukan pembicaraan singkat dengan PM Jepang di sela-sela rangkaian persidangan G20 pada tanggal 28 Juni 2019 setelah kegiatan family photo.

Dalam pembicaraan tersebut telah dibahas mengenai general review IJEPA dan isu terkait RCEP. "Model pembicaraan serupa juga dilakukan Presiden Jokowi dengan pemimpin negara sahabat lainnya, seperti PM Kanada," jelasnya.

Baca: Bagaimana Respon Bamsoet, Airlangga Boyong Ketua DPD Golkar Bertemu Jokowi?

Mengetahui adanya perubahan jadwal kedatangan Presiden Jokowi, Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi langsung melakukan pertemuan dengan Menlu Jepang Taro Kono.

Pertemuan tersebut berjalan selama satu jam.
Menlu RI pada tanggal 27 Juli 2019 menjadi Menlu pertama yang bertemu dengan Menlu Jepang dan membahas tidak saja isu-isu G20. Namun juga isu-isu bilateral yang menjadi kepentingan bersama.

Dalam pertemuan tersebut, mengantisipasi padatnya jadwanya PM Abe, telah memintakan agar dilakukan pertemuan singkat antara kedua kepala pemerintahan di sela-sela rangkaian G20.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Rachmat Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved