Kemensos Siap Bekerja Sama dengan Bulog Salurkan Beras untuk BPNT

Walaupun sadar menuai kritik, Mensos percaya ke depannya Bulog akan menyalurkan beras berkualitas kepada masyarakat.

Kemensos Siap Bekerja Sama dengan Bulog Salurkan Beras untuk BPNT
Kemensos
Mensos saat membuka Rapat Koordinasi Program Penanganan Fakir Miskin Penyaluran Bantuan Sosial Pangan “6T” untuk Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, di Jakarta, Kamis (4/7/2019). 

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan, jajarannya siap bekerja sama dengan Bulog untuk menjaga pasokan beras dalam program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Kami menyiapkan karpet merah untuk Bulog. Meski saya sadar bahwa kebijakan ini akan menuai kritik masyarakat khususnya para pelaku pasar dan para penerima bantuan yang selama ini sudah menerima beras dengan kualitas baik,” kata Mensos saat membuka Rapat Koordinasi Program Penanganan Fakir Miskin Penyaluran Bantuan Sosial Pangan “6T” untuk Peningkatan Kesejahteraan Rakyat, di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Meski demikian, kata Mensos, dirinya percaya bahwa ada komitmen ke depan bahwa Bulog akan menyalurkan beras berkualitas ke E-Warong, sehingga kepercayaan masyarakat kepada BPNT tetap terjaga. Kemudian juga perlunya penjangkauan Rumah Pangan Kita (RPK) khusunya di lokasi dimana E-Warong belum ada. RPK merupakan mitra Perum Bulog serta jaringan outlet penjualan pangan pokok.

Dalam kegiatan rakor di atas, hadir Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso beserta jajarannya. Kemudian juga para pejabat Eselon I, Eselon II, sejumlah pejabat struktural dan staf Kementerian Sosial.

Adapun peserta kegiatan Rakor ini terdiri dari berbagai pihak di antaranya dari Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, TNP2K, Bappenas, Himbara, serta para kepala dinas sosial provinsi se-Indonesia.

Selanjutnya Mensos menyatakan, pemerintah sedari dulu menyadari pentingnya upaya melindungi masyarakat miskin terhadap kebutuhan dasar pangan.

“Berbagai upaya perlindungan tersebut dapat terlihat dari lahirnya berbagai program antara lain raskin, rastra, hingga BPNT,” kata Mensos.

Transformasi satu program ke program lain, kata Mensos, ditujukan untuk membangun sistem perlindungan yang lebih efektif dalam mengentaskan kemiskinan.

“Di lain pihak, bantuan pangan khususnya beras, menjadi perhatian penting karena beras memberikan kontribusi terbesar terhadap Garis Kemiskinan, yaitu 19,54 di perkotaan dan 25,51 di pedesaan,” kata Mensos.

Di masa lalu, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai masalah dalam program bansos pangan, terutama terkait kualitas beras. Mengutip survey World Bank (2012 & 2014), KPK (2014), kata Mensos, ditemukan berbagai masalah dalam pelaksanaan program, antara lain: ketidaktepatan sasaran, ketidaktepatan kuantitas beras yang diterima dan kualitas beras yang buruk.

Halaman
123
Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved