Pengamat LIPI Menilai Pimpinan MPR Sebaiknya dari Kalangan Santri Nasionalis

“Persoalan kita itu ya radikalisasi agama dan deideologisasi pancasila”, kata Lili Romli dalam keterangan tertulisnya Jumat (19/7/2019).

Pengamat LIPI Menilai Pimpinan MPR Sebaiknya dari Kalangan Santri Nasionalis
Kompas.com/PRIYOMBODO
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribunnews, Taufik Ismail

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasca Pemilu Presiden 2019, kursi ketua MPR menjadi rebutan. Pasalnya pimpinan MPR ditentukan berdasarkan sistem paket bukan sistem proporsional atau berdasarkan suara terbanyak.

Peneliti LIPI, Lili Romli berpandangan bahwa Ketua MPR sebaiknya sosok yang bisa menyelesaikan sejumlah permasalahan yakni menguatnya radikalisasi agama dan deideologisasi pancasila.

“Persoalan kita itu ya radikalisasi agama dan deideologisasi pancasila”, kata Lili Romli dalam keterangan tertulisnya Jumat (19/7/2019).

Bukan tanpa alasan, menurutnya saat ini gerakan radikalisasi agama masih ada. Masih terdapat kelompok yang ingin mengganti ideologi pancasila dengan ideologi lain. Hal itu diperparah dengan berkurangnya pemahaman terhadap ideologi pancasila.
Sehingga menurutnya ketua MPR ke depan sebaikanya berasal dari kalangan santri-nasionalis.

Baca: Pakai Sabu-sabu, Komedian Nunung dan Suami Ingin Tambah Stamina

Baca: Pelatih Persib Bandung, Robert Alberts Siap Raih Tiga Poin dalam Pertandingan Lawan PSIS Semarang

"Sebab sosok santri nasionalis ini mampu mengurai dua masalah di atas, ia mampu mengurai akar-akar radikalisasi agama dan mampu memperkuat pemahaman ideologi pancasila pada kelompok nasionalis," katanya.

Dari sejumlah nama yang tergolong dari kalangan santri nasionalis. Ia menilai bahwa Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (Cak imin) dinilai cocok menjabat sebagai Ketua MPR. Cak Imin dinilai mengalami banyak pengalaman karena pernah menjabat menteri dan anggota DPR.

"Apalagi saat ini cak Imin sudah masuk pimpinan MPR” katanya.

Masalah ideologi tersebut menurutnya tidak bisa dianggap remeh atau enteng. Masalah ideologi menyangkut kekokohan bangsa.

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved