Viral Bajakah Jadi Obat Kanker

Mengintip Cara Belajar Para Siswa Pembuat Obat Kanker Berbahan Kayu Bajakah

Tiga siswa asal SMAN 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah yakni Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani kini masih terus menjadi pembicaraan.

Mengintip Cara Belajar Para Siswa Pembuat Obat Kanker Berbahan Kayu Bajakah
Tribunnews.com/Apfia Tioconny Billy
Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani, tiga siswa SMAN 2 Palangkaraya yang berhasil membuat obat penyembuh kanker dari bahan dasar akar bajakah, di Kemendikbud, Jakarta Pusat, Sabtu (17/8/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Tiga siswa asal SMAN 2 Palangkaraya, Kalimantan Tengah yakni Yazid, Anggina Rafitri, dan Aysa Aurealya Maharani kini masih terus menjadi pembicaraan.

Prestasi ketiganya menemukan khasiat obat kanker dari tanaman bajakah khas Kalimantan yang berhasil membawa mereka mendapatkan medali emas di perlombaan karya ilmiah di Seoul, Korea Selatan lah yang akhirnya membuat nama mereka viral.

Ketiganya pun berbagi tips cara belajar yang mampu membuat mereka meraih prestasi tersebut.

Dimulai dari Yazid, siswa kelas 11 SMA ini mengaku menerapkan pola belajar yang santai agar pelajaran mudah diserap.

Agar mudah memahami pelanjaran yang penting bagi Yazid adalah jangan sampai lepas konsentrasi ketika guru menerangkan.

Baca: Kini Ngehit dan Dijual Jutaan Rupiah, Dulu Harganya Rp10 Ribu Bajakah Tak Laku

Baca: Bajakah Marak Dijual dengan Harga Fantastis, Jangan Asal Konsumsi, Salah Minum Bisa Berbahaya 

“Pola belajar yang santai, enggak sih aku gak sambil dengaran musik tapi pokoknya guru megajar dengarkan dengan baik, diperhatikan baik-baik pola belajar di sekolah diiikutin lah. Saya santai gak mau ribet santai saja,” ucap Yazid saat ditemui di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Selatan, Sabtu (17/8/2019).

Sedangkan Anggina proses belajarnya sangat dipengaruhi oleh mood.

Biasanya sebelum memulai belajar khususnya ketika di rumah ia kerap membangun mood dengan scrolling sosial media.

Yazid, Anggi, Aysa dan guru pembimbing saat berada di sekolah. Ketiga siswa akan mendapat penghargaan dari Kemendikbud atas penemuan obat penyembuh kanker, Kamis (15/8/2019)
Yazid, Anggi, Aysa dan guru pembimbing saat berada di sekolah. Ketiga siswa akan mendapat penghargaan dari Kemendikbud atas penemuan obat penyembuh kanker, Kamis (15/8/2019) (Kompas.com/Kurnia Tarigan)

Baca: Full Artis Tenar, Dari Dian Sastro Hingga Joe Taslim Bintangi Jagat Sinema Bumilangit Jilid 1

Baca: Sebut Orang Ketiga, Nia Ramadhani Benci Saat Tahu Perilaku BCL di Pesta Nikah Anak Raam Punjabi

“Aku juga main instagram kok, tapi nyisain waktu belajar juga karena belajar gak bisa dipaksa kan harus tahu kapan nih yang enak buat belajar biar semangat,” kata Anggina.

Sama dengan sahabatnya, Aysa juga setuju kalau mood sangat mempengaruhi suasana belajar tapi yang paling penting menurut Aysa adalah memahami teori dibandingkan menghapal teorinya.

“Dipahami jangan dihapal penjelasannya tentang apa, jangan dihapal jangan deh tambah baca buku dan browsing, serta kerja kelompok untuk nambah ilmu,” ucap Aysa.

Cara belajar Aysa yang lebih berpusat ke pemahaman membuat ia mendapatkan tugas menjelaskan proses penelitian tentang khasiat tanaman bajakah ketika presentasi memaparkan hasil penelitian mereka disejumlah perlombaan.

“Anggina lebih jago presentasi hasil ujian. Kalau Aysa di background proses awalnya. Yazid lebih ke perkembangan produk,” papar Aysa.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Anita K Wardhani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved