Gempuran Budaya Asing, Puan Maharani Bicara Soal Nilai Luhur Pancasila

Akan tetapi kepribadian bangsa yang kuat, maka budaya asing dapat disaring dan dilarutkan ke dalam budaya nasional.

Gempuran Budaya Asing, Puan Maharani Bicara Soal Nilai Luhur Pancasila
Fransiskus Adhiyuda/Tribunnews.com
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dalam orasi ilmiah yang bertajuk 'Peran Kedutaan di Era Disrupsi untuk Membentuk Manusia Indonesia Seutuhnya' di ruang Gajah Mada, Gedung Lemhannas, Jakarta Pusat, Kamis (5/9/2019). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mengatakan, bangsa yang menghargai jati diri dan nilai luhur budayanya mampu menahan gempuran budaya asing.

Sejalan dengan itu, kebudayaan nasional, kata Puan, juga tidak menghilangkan identitas budaya daerah.

Akan tetapi kepribadian bangsa yang kuat, maka budaya asing dapat disaring dan dilarutkan ke dalam budaya nasional.

Hal tersebut disampaikan Puan dalam orasi ilmiah yang bertajuk 'Peran Kedutaan di Era Disrupsi untuk Membentuk Manusia Indonesia Seutuhnya' di ruang Gajah Mada, Gedung Lemhannas, Jakarta Pusat, Kamis (5/9/2019).

Baca: Tes Kepribadian: Kepala Anjing atau Kucing? Apa yang Kamu Lihat Pertama Kali Ungkap Asmaramu

"Kepribadian nasional juga tidak menghilangkan identitas budaya daerah. Karena seluruh kebudayaan di Indonesia memiliki satu benang merah yang sama, yaitu budaya ketuhanan, budaya beramal, budaya kebersamaan, budaya musyawarah, budaya berbagi, yang dapat diperas menjadi satu, yakni gotong royong," ujar Puan.

Dalam orasinya, Puan juga menyinggung soal Pancasila yang menjadi pemersatu beragam suku, budaya, bahasa, dan agama di Indonesia.

Puan juga bicara soal ancaman dari perilaku intoleran.

"Memperkuat budaya inklusif, toleran, dan ber-bhinneka tunggal ika merupakan syarat yang diperlukan dalam membangun Indonesia yang penuh keberagaman. Kini kita berhadapan dengan ancaman ya g berasal dari perilaku intoleran dan politik identitas yang sektarian, yang menentang penghormatan pada lambang negara, keinsafan akan Pancasila sebagai dasar hidup bangsa serta apresiasi terhadap keanekaragaman budaya bangsa," tuturnya.

Baca: Parodi Lagu Senorita Vanessa Angel Trending di Youtube: Jadi Mama Muda Sambil Joget Makan Pisang

Menurut Puan, hal itu menjadi ancaman serius bagi eksistensi persatuan di Indonesia.

Ia mencontohkan Pancasila dan keislaman di Indonesia juga dipertentangkan.

Padahal, lanjut Puan, di dalam Pancasila mengandung unsur keislaman dan kebangsaan.

"Akhir-akhir ini juga, Pancasila dan keislaman seperti dipertentangkan. Padahal Pancasila yang di dalamnya mengandung unsur-unsur keislaman dan kebangsaan adalah laksana dua rel kereta api yang jika keduanya berdampingan dengan kokoh, akan dapat mengantarkan NKRI dengan segenap rakyatnya yang majemuk," ucap Puan.

Lebih lanjut, Puan mengatakan jalan kebudayaan perlu diambil untuk mengatasi ancaman besar tersebut.

Menurutnya, interakasi antarbudaya perlu dibangun untuk menghapus berbagai prasangka.

"Untuk mengatasi ancaman besar itu, kita perlu ambil jalan kebudayaan. Kita perlu memperkuat interaksi antarbudaya di Indonesia, untuk menghapus eksklusifisme dari berbagai prasangka antarkelompok budaya," tutupnya.

Penulis: Fransiskus Adhiyuda Prasetia
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved