Kontes Kentut Pertama di India Segera Digelar, Kategorinya 'Terpanjang' hingga 'Terkeras'

Di India, akan segera digelar sebuah kontes, di mana pesertanya bisa bebas untuk kentut, bahkan berpeluang meraih hadiah.

Kontes Kentut Pertama di India Segera Digelar, Kategorinya 'Terpanjang' hingga 'Terkeras'
iStockphoto
Ilustrasi buang angin alias kentut. (iStockphoto) 

TRIBUNNEWS.COM - Orang pada umumnya akan memilih waktu dan tempat yang tepat untuk kentut, hal itu agar aktivitas tersebut jangan sampai mengganggu orang lain.

Sementara orang lain bakal memilih menjauh atau menutup hidung saat mendapati seseorang di dekatnya telah buang gas.

Namun di India, akan segera digelar sebuah kontes, di mana pesertanya bisa bebas untuk kentut, bahkan berpeluang meraih hadiah.

Adalah Yatin Sangoi dan Mul Sanghvi, asal Surat, negara bagian Gujarat, yang telah merencanakan sebuah "kontes kentut" pada 22 September mendatang.

Baca: Penampilan Tina Toon Sedot Perhatian Setelah Resmi Jadi Anggota DPRD Jakarta Bergaji Rp 111 Juta

Baca: Polisi Tangkap 5 Tersangka Pembakaran Hutan dan Lahan di Solok

Baca: Bukan Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, Dua Wonderkid Ini Curi Perhatian di Liga Champions

Dilansir dari Hindustan Times, kontes bertajuk "What The Fart!" itu bakal menjadi kontes kentut pertama yang digelar di India.

"Sekitar 25 hari yang lalu saya sedang menonton film bersama dengan keluarga saya saat saya tiba-tiba kentut dengan suara yang sangat keras dan semuanya tertawa."

"Saat itulah saya kemudian berpikir, seandainya ada kompetisi kentut, saya mungkin bakal menjadi pemenangnya. Tapi di India tidak ada kontes semacam itu," ujar Sangoi kepada Hindustan Times.

"Kemudian saya berdiskusi dengan teman-teman saya sampai akhirnya bersama salah seorang dari mereka kami memutuskan untuk membuat sebuah event," lanjutnya.

Sangoi mengatakan bahwa tidak ada tujuan khusus dari diadakannya kontes ini, selain ingin memberli wadah bagi mereka yang ingin buang gas secara bebas.

"Beberapa puluh tahun lalu orang-orang biasa kentut dengan bebas. Tetapi sekarang itu menjadi sesuatu yang dilarang dan tidak disukai oleh masyarakat," kata Sangoi.

Halaman
1234
Editor: Malvyandie Haryadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved