Kabut Asap

BPPT Sebut Kabut Asap Mulai Berkurang, Operasi Hujan Buatan Dilanjutkan

Hal itu karena kawasan yang terdampak kabut asap saat ini telah diguyur hujan dengan intensitas tinggi pada beberapa hari terakhir.

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Choirul Arifin
M ANSHAR (AAN)/SERAMBI/M ANSHAR
Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) membagikan masker kepada pengguna jalan di Simpang Lima, Banda Aceh, Senin (23/9/2019). Hasil pantauan udara Pesawat Intai AI-7302 milik TNI AU dari ketinggian 15.000 kaki seluruh pulau Sumatera sudah diselimuti kabut asap. SERAMBI/M ANSHAR 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kabut asap yang melanda sejumlah daerah di Sumatra dan Kalimantan pasca terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang mulai menghilang dan kualitas udara pun kini meningkat.

Hal itu karena kawasan yang terdampak kabut asap saat ini telah diguyur hujan dengan intensitas tinggi pada beberapa hari terakhir.

Hujam tersebut merupakan hasil dari operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC).

Pernyataan tersebut disampaikan Kepala BBTMC BPPT Tri Handoko Seto yang terus melakukan pemantauan pada sejumlah posko operasi TMC.

"Kami terus pantau akuntabilitas keberhasilan operasi TMC dari beberapa Posko TMC BBTMC-BPPT," ujar Seto, di Jakarta, Senin (30/9/2019).

Ia kemudian mengatakan bahwa ada sejumlah aspek yang dijadikan acuan oleh BBTMC BPPT dalam mengukur perkembangan kualitas udara serta intensitas curah hujan yang terjadi pasca dilakukannya optimalisasi operasi TMC.

"Melalui data stasiun meteorologi untuk kondisi cuaca dan visibility per jam dari seluruh stasiun tiap wilayah. Data hotspot juga, selain data curah hujan dan volume air selama operasi TMC berlangsung tentunya," jelas Seto.

Pada kesempatan lainnya, Kepala BPPT Hammam Riza pun mengucapkan syukurnya saat mengetahui bahwa operasi TMC yang telah dilakukan BBTMC BPPT mulai menghasilkan dampak positif.

"Alhamdulillah, kabut asap yang sebelumnya melanda sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan saat ini berangsur hilang ya. Itu terjadi karena selama beberapa hari terakhir ini, hujan dengan intensitas cukup tinggi mengguyur sejumlah daerah yang mengalami karhutla," kata Hammam, Senin (30/09/2019).

Baca: Fahri Hamzah dan Budiman Sudjatmiko Resmi Angkat Koper dari Senayan

Hammam kemudian menjelaskan bahwa upaya penanganan karhutla dilakukan melalui penyemaian kapur tohor aktif atau Kalsium Oksida (CaO) dan Garam atau Natrium Klorida (NaCl).

Penyemaian pun telah dilakukan secara optimal untuk bisa mengatasi bencana tahunan ini.

Baca: Jokowi Tak Menjawab Pertanyaan Wartawan tentang Penangkapan Musisi Ananda Badudu

"Kami telah melakukan penyemaian kapur tohor untuk mengurai partikel dan gas pada kabut asap, lalu menyemai garam ke potensi awan hujan hingga menghasilkan hujan buatan, itu kami lakukan terus menerus dan alhamdulillah berhasil," jelas Hammam.

Operasi TMC ini berdampak pula pada menurunnya jumlah titik api (hotspot) serta membaiknya jarak pandang di wilayah terdampak karhutla.

Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) membagikan masker kepada pengguna jalan di Simpang Lima, Banda Aceh, Senin (23/9/2019). Hasil pantauan udara Pesawat Intai AI-7302 milik TNI AU dari ketinggian 15.000 kaki seluruh pulau Sumatera sudah diselimuti kabut asap. SERAMBI/M ANSHAR
Petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) membagikan masker kepada pengguna jalan di Simpang Lima, Banda Aceh, Senin (23/9/2019). Hasil pantauan udara Pesawat Intai AI-7302 milik TNI AU dari ketinggian 15.000 kaki seluruh pulau Sumatera sudah diselimuti kabut asap. SERAMBI/M ANSHAR (M ANSHAR (AAN)/SERAMBI/M ANSHAR)

"Jumlah titik hotspot pun mulai berkurang ya dan bagusnya sekarang jarak pandang sudah mulai kembali normal, artinya masyarakat sudah mulai bisa melakukan aktivitasnya seperti biasa," papar Hammam.

Ia menekankan bahwa BPPT berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan pada wilayah yang terdampak karhutla demi mengantisipasi agar peristiwa itu tidak terulang kembali.

Dalam mengatasi bencana ini, pihaknya akan terus bekerjasama dengan lembaga terkait lainnya, yakni Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan didukung pesawat dari TNI Angkatan Udara (AU).

"Kami akan terus memantau wilayah-wilayah tersebut untuk mengantisipasi agar hotspot tidak bertambah, dan kami akan tetap bersinergi dengan BMKG dan BNPB," pungkas Hammam.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved