Surya Paloh Disinyalir Ingin Jadi Pusat Pencapresan pada 2024

Ketua Umum NasDem Surya Paloh disinyalir ingin menjadi President Makers pada Pemilu 2019.

Surya Paloh Disinyalir Ingin Jadi Pusat Pencapresan pada 2024
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh (kiri) berjabat tangan dengan Presiden PKS Sohibul Iman (kanan) usai mengadakan pertemuan di Kantor DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10/2019). Pertemuan tersebut dalam rangka silaturahmi kebangsaan dan saling menjajaki untuk menyamakan pandangan tentang kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Ketua Umum NasDem Surya Paloh disinyalir ingin menjadi President Makers pada Pemilu 2019.

Pertemuan dengan Presiden PKS Sohibul Iman, rencana menemui Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan dan pemberian ruang seluas-luasnya kepada Anies Baswedan di acara pembukaan Kongres Kedua NasDem merupakan faktor Paloh ingin menjadi pusat pencapresan di 2024.

Pengamat politik dari Universitas Telkom Bandung Dedi Kurnia mengatakan, Paloh saat ini sudah tidak memusingi pemerintahan yang baru saja terbentuk.

Baca: Anies Baswedan Beri Sambutan di Kongres Nasdem, Surya Paloh Ungkap Alasan Undang Gubernur Jakarta

Baca: Kongres NasDem: Surya Paloh Sindir Balik Jokowi hingga Pujian Anies Baswedan

Bagi Paloh, kata Dedi, yang terpenting adalah misi politik yaitu memenangkan jagoannya di Pemilu 2024.

"Aktivitas politik SP sah saja mengingat ini merupakan momentum Nasdem, tidak lagi bicara koalisi 2019. Tetapi soal 2024, hal ini tampak bagaimana Anies diberi akses panggung oleh SP," kata Dedi saat dihubungi, Minggu (10/11/2019).

Dedi melihat manuver Paloh itu setidaknya membuat Presiden Joko Widodo kecewa.

Sikap antipati itu terlihat saat Presiden Jokowi menyinggung Paloh yang lebih mesra dengan Presiden PKS Sohibul Iman dibanding dirinya.

"Faktor inilah yang membuat Jokowi sedikit kecewa, bahkan sempat menyindir jika SP lebih hangat pada PKS dibanding dengan dirinya," kata Dedi.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion ini juga menilai PDI Perjuangan termasuk partai yang kecewa dengan Paloh.

Paloh, kata Dedi, ditenggarai memimpin partainya untuk bermain dua kaki di pemerintahan Jokowi.

Di sisi lain, kata Dedi, Paloh juga kecewa dengan Presiden Jokowi lantaran merusak tatanan kekuasaan NasDem di pemerintahan. Terutama tidak diberikannya kursi Jaksa Agung kepada NasDem.

"Hal itu pula membuat NasDem gesit mengambil langkah membentuk poros masa depan, dengan lakukan lobi politik kepada PKS, juga Anies sebagai tokoh populer saat ini. Memang terlalu dini, tetapi pembicaraan politik selalu dinamis, meskipun hari ini terkesan membangun komunikasi dengan Anies, tidak lantas ada kepastian di 2024," jelas Dedi.

Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved