Kamis, 28 Mei 2026

Jokowi dan Surya Paloh Disebut Saling Sindir, Pengamat: Malah Bagus, Ini Progres Demokrasi Indonesia

Pengamat dari UGM sebut saling sindir Jokowi dan Surya Paloh bagus lantaran memberi kesadaran masyarakat soal fenomena politik dua kaki dalam koalisi.

Tayang:
Penulis: Ifa Nabila
YouTube Talk Show tvOne
Direktur Presidential Studies Decode UGM Nyarwi Ahmad menganggap fenomena saling sindir Jokowi dan Surya Paloh justru bagus lantaran menunjukkan progres demokrasi di Indonesia. 

TRIBUNNEWS.COM - Baru-baru ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum Partai NasDem disebut saling sindir setelah pertemuan Surya dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman pada 30 Oktober 2019 lalu.

Direktur Presidential Studies Decode UGM, Nyarwi Ahmad menganggap fenomena ini justru bagus lantaran menunjukkan progres demokrasi di Indonesia.

Dilansir Tribunnews.com, hal tersebut disampaikan Nyarwi dalam tayangan 'Apa Kabar Indonesia' unggahan kanal YouTube Talk Show tvOne, Minggu (10/10/2019).

Nyarwi menganggap fenomena saling sindir ini justru menandakan adnaya dialog antar politisi di negeri ini meski dengan jalan sindiran.

"Sebenarnya ini bagus ya, artinya ada progres bagus di Indonesia. Kenapa? Politisi saling berdialog," ujar Nyarwi.

"Paling tidak, walaupun mereka (dengan jalan saling sindir)," tambahnya.

Bagi Nyarwi, saling sindir ini menunjukkan kedua tokoh itu bisa menyampaikan unek-uneknya ke masyarakat.

Nyarwi menyebut masyarakat juga menunggu adanya interaksi antar elite politik, misalnya dengan peristiwa saling sindir ini.

"Ya itu kan pada akhirnya menyampaikan ekspresinya di publik kan," kata Nyarwi.

"Nah paling tidak kita kan selama ini berharap juga, elite-elite itu ada statement dari si A menyampaikan ini, kemudian muncul, entah sifatnya setuju atau tidak setuju," sambungnya.

Sindiran Jokowi terhadap Surya Paloh memunculkan kesadaran publik soal bagaimana selama ini koalisi berjalan.

"Tapi apa yang ingin ditonjolkan?" tanya pembawa acara Gina Fita.

"Nah kalau itu misalnya yang ditanyakan kan misalnya Pak Jokowi menanyakan komitmen koalisi," jawab Nyarwi.

"Nah ini menjadi persoalan isu pelembagaan politik di Indonesia kan, bagaimana selama ini koalisi misalnya itu dilakukan, baiknya."

Selain itu, masyarakat juga menjadi sadar tentang fenomena yang disebut sebagai politik dua kaki, yakni ketika pihak koalisi menjalin kerja sama dengan oposisi.

"Atau yang kedua soal otonomi partai misalnya, boleh enggak, partai yang misalnya sudah berkoalisi punya otonomi juga, menjalin kerja sama," jelas Nyarwi.

"Ini kan persoalan juga yang sebenarnya kalau ini enggak muncul antar elite, kita juga enggak tahu kan ini akan kemudian menjadi isu dalam demokrasi."

Berikut video lengkapnya:

Dikutip dari Kompas.com, Senin (11/11/2019), Jokowi sempat berkelakar soal rangkulan Surya Paloh dan Sohibul Iman.

Hal tersebut disampaikan Jokowi dalam pidato pembukaan HUT ke-55 Partai Golkar di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (6/11/2019).

Ketika menyapa para hadirin, Jokowi tak lupa menyebut nama Surya Paloh serta melontarkan candaannya tentang pertemuan dengan Sohibul Iman.

"Yang saya hormati para ketua umum, Bapak Surya Paloh yang kalau kita lihat malam hari ini beliau lebih cerah dari biasanya, sehabis pertemuan beliau dengan Pak Sohibul Iman di PKS," sapa Jokowi.

Sapaan Jokowi itu sontak memancing tawa dan sorak sorai para kader Golkar.

Jokowi juga menyinggung soal rangkulan Surya Paloh ke Sohibul Iman yang menjadi pemberitaan hangat.

"Saya tidak tahu maknanya apa. Tetapi rangkulannya itu tidak seperti biasanya. Tidak pernah saya dirangkul oleh Bang Surya seerat dengan Pak Sohibul Iman," tambah Jokowi.

Jokowi mengaku sudah menanyakan langsung kepada Surya Paloh tentang makna pertemuan itu lantaran Surya masih di dalam koalisinya.

Namun Jokowi menyebut Surya Paloh belum memberi jawaban pasti.

Tak lama setelah itu, Surya Paloh balik melontarkan pernyataan 'sindiran' balasan yang diduga kuat ditujukan kepada PDIP sebagai partai pengusung Jokowi.

Pernyataan itu disampaikan Surya Paloh dalam pembukaan Kongres Partai NasDem di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Sabtu (9/11/2019).

"Pancasila sebagai pegangan kita. Tapi kita tidak laksanakan itu, ngakunya partai nasionalis, partai yang pancasilais," ucap Surya Paloh.

"Ya buktikan saja di rakyat yang membutuhkan pembuktian partai mana yang paling menanamkan nilai-nilai Pancasila."

 (Tribunnews.com/Ifa Nabila)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved