Jumat, 17 April 2026

2 Bulan Menjabat Posisi Menteri BUMN, Erick Thohir: Harus Berani Objektif

Erick Thohir menyebutkan menjadi menteri BUMN harus berani untuk memandang sesuatu secara objektif.

Penulis: Febia Rosada Fitrianum
Tangkap Layar kanal YouTube Kompas TV
Menteri BUMN, Erick Thohir dalam rapat kerja perdana dengan Komisi VI DPR, Senin (2/12/2019). 

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir menyebutkan, menjadi menteri di bidang yang strategis harus berani untuk objektif.

Hal tersebut disampaikan oleh Erick Thohir dalam acara Mata Najwa yang disiarkan langsung di Trans 7, pada Rabu (4/12/2019).

Erick Thohir mengatakan menjadi menteri BUMN harus berani objektif.

Karena posisi menteri merupakan tugas yang harus diemban dan dilaksanakan dengan baik.

"Bukan arti makan hati, tapi harus berani objektif. Karena tentu amanah yang diberikan ini kan sesuatu yang sangat luar biasa," ucap Erick Thohir.

"Dan harus dikerjakan sebaik mungkin dan secara lillahi ta'ala," imbuhnya.

Erick Thohir dalam Mata Najwa
Menteri BUMN, Erick Thohir sebut selama menjabat harus berani objektif.

Erick Thohir juga mengatakan, menjadi menteri BUMN juga harus siap dicopot.

Menurut Erick Thohir yang dikerjakan dalam Kementerian BUMN tidak hanya berdampak untuk hari ini saja.

Melainkan untuk menjadi dasar di masa jabatan selanjutnya.

Erick Thohir telah mengatakan pada timnya di kementerian untuk siap bekerja dengan jangka waktu lima tahun atau bahkan hanya dua tahun.

"Harus siap juga dicopot, karena kita lihat kan apa yang kita lakukan sekarang tidak bukan hanya buat hari ini," terang Erick Thohir.

"Tentu kami di Kementerian BUMN saya sudah bilang ke teman-teman ya kita harus siap kerja dua tahun, kita harus siap kerja lima tahun."

"Tetapi apapun yang kita kerjakan tentu menjadi pondasi untuk masa yang akan datang."

Erick Thohir menjelaskan dengan dasar yang kuat, siapapun nanti menteri BUMN tidak mengulangi keadaan yang sedang dialami saat ini.

Oleh karena itu, Erick Thohir menegaskan Kementerian BUMN membutuhkan sosok maupun keputusan yang dapat memberikan gebrakan, membersihkan, serta berinovasi.

"Karena tidak mungkin ke depan siapapun yang memimpin BUMN harus mengulangi apa yang kita alami sekarang," jelas Erick Thohir.

"Karena itu perlu sesuatu yang mendobrak, membersihkan, dan membuat sesuatu yang belum pernah terpikirkan, tentu untuk Indonesia dan tentu buat rakyat," tambahnya.

Erick Thohir dan Mata Najwa
Menteri BUMN, Erick Thohir dalam acara Mata Najwa episode Demi Bisnis Negara, Rabu (4/12/2019)

6 Gebrakan yang Dibuat Oleh Erick Thohir Selama Menjabat Menteri BUMN

Setelah masuk ke dalam Kabinet Indonesia Maju, Erick Thohir telah membuat beberapa gebrakan, di antaranya adalah:

1. Membentuk satuan tugas (satgas) kereta cepat Jakarta-Bandung

Proyek ini direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun 2021 mendatang.

2. Pangkas jabatan Deputi di Kementerian BUMN

Erick Thohir melakukan pengurangan jumlah deputi yang semula ada tujuh orang menjadi hanya tiga orang.

3. Tunjuk Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi Komisaris Utama Pertamina

Keputusan itu diumumkan oleh Erick Thohir sendiri di Istana Kepresidenan, pada Jumat (22/11/19).

4. Tunjuk Chandra Hamzah Jadi Komisioner Utama BTN

Erick Thohir juga menunjuk Mantan Komisioner KPK, Chandra Hamzah menjadi Komisaris Utama Bank Tabungan Negara (BTN) menggantikan Pahala N Marsury yang menjadi Direktur Utama BTN.

5. Evaluasi anak perusahaan BUMN yang tak jelas dasar pembentukannya

Satu di antara yang dievaluasi pada 11 perusahaan air minum.

6. Ingin membuat Peraturan Menteri (Permen) baru terkait izin pembentukan anak atau cucu perusahaan BUMN

Dalam rapat kerja perdana oleh Komisi VI DPR RI, Erick Thohir meminta izin akan membuat Permen untuk memperketat izin pembentukan anak perusahaan dan cucu perusahaan BUMN.

Karena menurut Erick Thohir pembentukan anak atau cucu perusahaan baru BUMN tersebut harus disertai dengan alasan yang jelas.

(Tribunnews.com/Febia Rosada Fitrianum)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved