Kamis, 16 April 2026

Respons Sejumlah Tokoh Sikapi Keputusan Bobby Nasution Maju Pilkada, Moeldoko hingga Andre Rosiade

Bobby telah mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon Wali Kota Medan, secara langsung, ke DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Sumut

Editor: Ifa Nabila
Instagram @andrerosiade dan @ayangkahiyang
Kolase foto Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu - Andre Rosiade. 

Respons Sejumlah Tokoh Sikapi Gibran dan Bobby Maju Pilkada, Moeldoko hingga Andre Rosiade

TRIBUNNEWS.COM - Setelah putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran Rakabuming Raka dikabarkan akan maju ke Pemilihan Wali Kota Solo, kini sang menantu, Bobby Nasution telah memantapkan langkahnya untuk terjun ke dunia politik.

Bobby Nasution telah resmi mencalonkan diri menjadi Wali Kota Medan pada Pilkada 2020.

Seperti yang diberitakan dari YouTube KOMPASTV, Bobby telah mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon Wali Kota Medan, secara langsung, ke DPD Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Sumatera Utara.

Sebelumnya, Gibran pun telah memastikan keseriusannya untuk maju dalam Pemilihan Wali Kota Solo 2020.

Bahkan, Gibran sempat menyambangi kediaman Ketua Umum PDIP, Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat, untuk menyampaikan keseriusannya tersebut.

"Saya sampaikan keseriusan saya untuk maju," ujar Gibran seusai menemui Megawati, Kamis (24/10/2019).

Masuknya Gibran dan Bobby ke dunia politik, menuai berbagai tanggapan publik.

Banyak yang mendukung, namun tak sedikit pula yang merasa kurang setuju melihat dua anggota keluarga presiden itu mencalonkan diri sebagai wali kota.

Berikut tanggapan sejumlah tokoh sikapi keputusan Gibran Rakabuming dan Bobby Nasution untuk maju pilkada yang dikutip Tribunnews dari berbagai sumber.

1. Moeldoko - Kepala Staf Kepresidenan

Merespon hal tersebut, Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko tidak mempermasalahkan Gibran dan Bobby terjun ke dunia politik.

Menurutnya siapapun termasuk keluarga presiden bisa terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri menjadi kepala daerah selama memiliki hak politik.

"Anggapan dinasti politik perlu diluruskan. Ini kan proses pembelajaran politik bagi masyarakat. Jadi jangan terus menjustifikasi dinasti politik. Semua orang kan punya hak politik yang sama," ujar Moeldoko di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (4/12/2019) seperti dikutip Tribunnews.

Moeldoko menegaskan dalam politik, hukumnya semua pihak bisa berpolitik asalkan hak politiknya tidak dicabut.

"Di politik ketentuannya ya itu. Kalau hak politiknya tidak dicabut karena melakukan pelanggaran hukum. Itu boleh-boleh saja."

"Sekarang pertanyaannya hak politik yang bersangkutan (Gibran dan Bobby) dicabut enggak? Kan tidak," katanya.

Kepala Staf Kepresidenan mengatakan Presiden Jokowi telah mengantongi nama Wantimpres, mereka diisi oleh unsur profesional.
Kepala Staf Kepresidenan mengatakan Presiden Jokowi telah mengantongi nama Wantimpres, mereka diisi oleh unsur profesional. (Youtube Kompas TV)

2. Mardani Ali Sera - Ketua DPP PKS

Melansir Tribunnews, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menghormati keputusan menantu Presiden Jokowi Bobby Nasution menjadi calon Wali Kota Medan.

Menurutnya, setiap orang memiliki hak untuk dipilih dan memilih.

"Kalau setiap orang punya hak untuk dipilih dan memilih selama tidak dalam syarat tidak boleh dipilih," katanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (4/12/2019).

Kendati demikian, Mardani Ali Sera mengingatkan bahaya nepotisme kembali terjadi.

Anggota Komisi II DPR ini tidak ingin dinamika demokrasi kembali seperti di Rezim Orde Baru.

"Tapi kita reformasi itu memerangi nepotisme. Itu saya sedih kalau trennya nepotisme muncul lagi, lebih baik kita coba belajar dari sejarah," ucapnya.

"Saya tidak ingin judgment. Semua orang berhak, kalau sikap saya nepotisme itu adalah kemunduran bagi demokrasi Indonesia, tapi setiap orang punya hak untuk maju gitu," imbuhnya.

Mardani Ali Sera
Mardani Ali Sera (Chaerul Umam)

3. Andre Rosiade - Wasekjen Partai Gerindra

Politikus Gerindra Andre Rosiade, menyebut wajar kalau ada yang mempertanyakan mengapa Jokowi terkesan membangun dinasti ketika Bobby Nasution dan Gibran Rakabuming maju Pilkada 2020.

Mulanya Andre mengatakan proses nepotisme yang jadi momok menakutkan itu, sudah tidak ampuh karena zaman ini kondisi di Indonesia sudah jauh berbeda.

Sementara pencalonan diri Gibran dan Bobby sebagai walikota baginya adalah lumrah, keduanya memiliki hak sebagai warga negara untuk mencalonkan diri.

"Menurut saya hal yang lumrah saja kalau setiap orang, warga negara RI punya hak untuk maju dipilih dan memilih. Lagi pula mas Gibran dan Bobby punya hak juga untuk maju menjadi kandidat walikota," ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (4/12/2019) seperti dikutip TribunJakarta.

Meski berpendapat demikian, Andre berujar belum tentu keduanya bisa menang di pilkada Solo dan Medan.

Kemudian dia menegaskan, karena semua keputusan akhirnya akan dikembalikan ke tangan rakyat, baiknya tidak perlu menghalangi hak yang dimiliki Gibran dan Bobby untuk maju pilkada.

"Tapi kalau ada sekelompok masyarakat yang bilang ini bagian dari politik dinasti lumrah juga, tapi sekali setiap warga negara termasuk Mas Gibran dan Mas Bobby punya hak yang sama dengan siapapun untuk berpartisipasi mengikuti Pilkada," ujarnya menegaskan.

Kemudian Andre mengatakan dirinya menghormati pilihan Bobby dan Gibran yang ingin masuk dan ikut Pilkada.

Namun dia mengingatkan, semua keputusan kembali berpulang kepada pilihan rakyat.

"Jadi terserah rakyat Solo atau rakyat Medan, mau memenangkan mereka berdua atau tidak, pilihan ada di tangan rakyat. Kita tunggu saja hasil pilkadanya seperti apa," ujar Andre Rosiade.

Kolase foto Bobby Nasution, Ayang, dan Andre
Kolase foto Bobby Nasution, Ayang, dan Andre (Instagram @andrerosiade dan @ayangkahiyang)

4. Pangi Syarwi - Pengamat Politik

Pangi Syarwi Chaniago sebagai pengamat politik menilai masuknya Gibran dan Bobby ke dunia politik, tak lain untuk membangun dinasti politik.

Hal ini diutarakan Pangi saat dihubungi Tribunnews.com pada Rabu (4/12/2019).

Menurut Pangi, jika melihat masuknya keluarga Jokowi ke kancah politik dari segi sentimen atau citra publik, maka publik akan banyak yang menyatakan keputusan itu kurang tepat.

"Yang jelas adalah kalau dari segi sentimen atau citra publik, tentu banyak yang menyatakan kurang tepat," ujarnya.

Pendiri dan CEO Voxpol Center Research and Consulting itu menambahkan, publik akan menafsirkannya sebagai langkah membangun politik dinasti dan memanfaatkan jabatan presiden.

"Dianggap ini hanya akan membangun dinasti politik, tidak baik bagi citra Pak Jokowi sendiri, dianggap memanfaatkan jabatan presiden untuk memuluskan (usaha pencalonan wali kota) misalnya Gibran dan Bobby," tutur Pangi.

Analis Politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting itu menjelaskan, terdapat perbedaan tafsir antara publik dan elite.

"Jadi tafsir publik dengan tafsir elite itu berbeda," tegasnya.

Menurut Pangi, tafsir elite akan cendurung mendorong momentum ini untuk dimanfaatkan sebaik mungkin.

"Tafsir elite mungkin mendorong momentum ini dimanfaatkan dengan baik karena ada momentum yang pas," ujarnya.

Sebelumnya, Pangi menyebut politik akan selalu berbicara soal momentum.

Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago menyampaikan tanggapannya terkait bergabungnya keluarga Jokowi, Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution ke kancah politik.
Pengamat Politik Pangi Syarwi Chaniago menyampaikan tanggapannya terkait bergabungnya keluarga Jokowi, Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution ke kancah politik. (Pangi Syarwi Chaniago)

"Ketika memang momentum itu pas, siapa bisa mengambil alih momentum dan panggung itu menjadi kesempatan yang besar untuk dipilih," jelas Pangi.

Sementara itu, Pangi mengatakan, bagi tafsir publik, kemungkinan akan lebih banyak yang menilai saat ini waktu yang tepat untuk Gibran dan Bobby mencalonkan diri sebagai wali kota.

"Bagi tafsir publik, mungkin juga mengatakan lebih baik jangan dulu," kata Pangi.

"Setelah nanti Pak Jokowi selesai baru maju gitu," sambungnya.

Menurut Pangi, ketika Gibran dan Bobby terjun ke kancah politik pada saat Jokowi masih menjabat sebagai presiden, muncul kekhawatiran publik akan adanya konflik kepentingan.

"Dikhawatirkan terlalu banyak conflic of interest, atau memanfaatkan fasilitas negara, kemudian ada kelompok-kelompok yang sengaja menjerumuskan Pak Jokowi dan keluarganya misalnya pada hal-hal nepotisme," jelasnya.

Memandang dari tafsir elite, menurut Pangi, sejauh ini pencalonan Gibran dan Bobby memang pada momentum politik yang tepat.

Lebih lanjut, Pangi menyampaikan, hal itu sah-sah saja dalam dunia politik

"Kalau tafsir elite, sepanjang ini memang momentum politik yang pas dan ini memang sah-sah saja," kata Pangi.

"Tidak ada soal politik dinasti ini melanggar hukum, nah itu nggak akan menjadi masalah rumit," lanjutnya.

Menurut Pangi, anak dan menantu Jokowi itu berpeluang besar untuk terpilih dalam Pemilihan Wali Kota 2020.

"Kalau kita melihat dua sosok ini, yang satu anaknya Jokowi, yang satu menantunya, peluang mereka terpilih sangat besar," ujarnya.

Sementara itu, menurutnya, hal ini tidak akan menjadi masalah yang rumit sepanjang Jokowi tidak terkesan mengatur atau bahkan menginterferensi majunya Gibran dan Bobby di Pilkada 2020.

Pasalnya hal itu akan menambah keraguan publik untuk dapat memastikan tidak ada konflik kepentingan.

"Tetapi bagaimana kemudian Pak Jokowi untuk tidak terlalu terkesan mengatur, menginterferensi bahkan mendesain atau terkesan seolah-olah memuluskan itu yang agak rumit untuk memastikan tidak terjadi conflic of interest itu di antara orang-orang yang ingin mencari muka," jelas Pangi.

Pangi menyebutkan, Jokowi akan menjadi coat-tail effect bagi Gibran dan Bobby.

"Sejauh ini citra Pak Jokowi masih bagus, Pak Jokowi menjadi coat-tail effect Gibran dan Bobby," jelasnya.

Pangi juga menyampaikan, sosok Jokowi akan sangat mempengaruhi pandangan publik untuk memilih Gibran dan Bobby karena adanya keinginan untuk memilih pemimpin dari keluarga Jokowi.

Sementara itu, ia menuturkan akan tetap ada sebagian sentimen negatif soal Jokowi.

"Walaupun, tetap ada sebagian sentimen negatif, resisten dengan majunya keluarga Jokowi karena mereka khawatir soal dinasti politik dan oligarki yang sedang dibangun keluarga Jokowi," jelasnya.

Mengenal Bobby Nasution

Sosok Bobby Nasution mulai menjadi perbincangan saat mempersunting putri Presiden Jokowi, Kahiyang Ayu pada 2017 silam.

Bobby Nasution dan Kahiyang Ayu dikaruniai seorang anak perempuan bernama Sedah Mirah Nasution, yang lahir pada 1 Agustus 2018.

Bobby Nasution rupanya bukanlah orang sembarangan.

Dilansir Tribunnewsmaker.com, Bobby merupakan anak dari mantan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (Persero) IV, Erwin Nasution.

Bobby Nasution adalah lulusan dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus mengambil pendidikan master.

Sebelum terjun ke dunia politik, Bobby Nasution dikenal sebagai seorang pengusaha.

Ayah Sedah Mirah Nasution itu mengawali karirnya sebagai pengusaha di bidang properti dan bergabung di Takke Group.

Sejak usia 20 tahun, Bobby Nasution ia memulai dengan merenovasi rumah untuk dijual kembali.

Menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution, mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon Wali Kota Medan ke DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,Sumatera Utara.
Menantu Presiden Joko Widodo, Bobby Nasution, mengembalikan formulir pendaftaran bakal calon Wali Kota Medan ke DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan,Sumatera Utara. (Instagram @ayanggkahiyang)

Hingga akhirnya ia bisa terlibat dalam pembangunan beberapa rumah dan terlibat proyek Malioboro City di Yogyakarta.

Di Takke Group, Bobby Nasution memiliki saham 10-20 %.

Selain itu, ia juga menjabat sebagai Direktur Marketing sejak November 2016 lalu.

Diketahui, Bobby Nasution juga pernah menjadi manager dari klub sepak bola Medan Jaya.

Tonton video selengkapnya.

(Tribunnews.com/Sinatrya/Theresia Felisiani/Widyadewi Metta Adya Irani)(TribunJakarta/Lusinus Genik)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved