Pemerintah Perlu Beri Perhatian Khusus pada Posyandu Jika Ingin Menurunkan Angka Stunting

Kekuatan Posyandu dibanding cara lain adalah karena adanya kader dan perlu diketahui, semua intervensi di Indonesia ini kuncinya penggerak

Pemerintah Perlu Beri Perhatian Khusus pada Posyandu Jika Ingin Menurunkan Angka Stunting
SURYA/SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
PENCEGAHAN STUNTING - Wakil Presiden RI, Maaruf Amin bersama istri dan Bupati Malang, Sanusi melihat pengukuran tinggi balita dalam peninjauan pencegahan stunting di Balai Desa Tangkilsari, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang, Rabu (27/11/2019). Kunjungan ini melihat langsung upaya pencegahan stunting berbasis masyarakat yang merupakan program pemerintah untuk menekan angka stunting yang mencapai level  27 persen. SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah perlu memberikan perhatian khusus terhadap gerakan Posyandu untuk menjadi program ujung tombak menurunkan angka stunting di negeri ini.

Pernyataan Menteri Kesehatan RI,  Terawan Agus Putranto untuk menggiatkan kembali Posyandu dinilai tidak cukup, tanpa langkah konkret di lapangan serta mencontoh kiat sukses Posyandu di zaman Presiden kedua RI Soeharto.

Dinda Srikandi Radjiman, peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas Indonesia (UI) mengatakan,program Posyandu terbukti dapat berfungsi secara komprehensif sebagai pendeteksi awal, penanganan, pencegahan, serta konsultansi yang dilakukan oleh kader Posyandu.

“Artinya, Posyandu merupakan garda terdepan upaya pencegahan stunting. Ini yang perlu dijabarkan dalam rencana aksi secara konkret di lapangan,” paparnya di Jakarta, Jumat (13/12/2019).

Menurut dia, peran strategis Posyandu terbilang sukses saat pemerintahan dipimpin Soeharto dan tidak ada salahnya jika pemerintahan saat ini mencontoh kiat sukses tersebut.

“Artinya, tidak ada salahnya jika Posyandu diberi perhatian khusus dan digerakkan lagi. Dalam arti, perhatian khusus itu bisa berupa anggaran yang memadai untuk menggerakkan program di lapangan. Sebab, jangan salah karena people moved by incentives dari pemerintah,” jelasnya.

Dinda menilai kekuatan utama Posyandu ada di deteksi awal dan kader di lapangan.

Baca: Penampilan Maia Estianty Saat Jadi Dosen Tamu di UI, Necis dengan Paduan Warna Monokrom

Deteksi awal itu terkait dengan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi seiring berjalannya usia, sehingga masalah atau bila ada abnormalitas pertumbuhan anak di usia 0 - 23 bulan paling utama dapat terdeteksi di Posyandu.

“Bayangkan bila tidak terdeteksi, dampaknya akan lebih parah dan berkelanjutan,” jelasnya.

Kekuatan Posyandu dibanding cara lain adalah karena adanya kader dan perlu diketahui, semua intervensi di Indonesia ini kuncinya penggerak.

Halaman
123
Editor: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved