Minggu, 31 Agustus 2025

Anak dan Menantu Jokowi Maju di Pilkada, Bikin Kompetisi Jadi Tak Seimbang

Gibran merupakan anak pertama Presiden Joko Widodo dan saat ini maju mengikuti kontestasi Pemilihan Wali Kota Solo.

BPMI Setpres
Presiden Jokowi dan Gibran Rakabuming Raka saat makan siang bersama di Rumah Makan Ayam Goreng Kampung Mbah Karto, Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu, 28 Juli 2019. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Majunya Gibran Rakabuming Raka dan Bobby Nasution di Pilkada Serentak 2020 disebut menciptakan kompetisi tak seimbang. Mereka disebut memiliki bekal elektoral memadai karena 'Jokowi effect'.

Gibran merupakan anak pertama Presiden Joko Widodo dan saat ini maju mengikuti kontestasi Pemilihan Wali Kota Solo.

Sementara Bobby Nasution merupakan menantu Jokowi. Dia maju dalam pemilihan Wali Kota Medan.

"Siapapun berhak maju jadi calon kepala daerah, cuma problem majunya Gibran-Bobby akan menciptakan kompetisi yang tak seimbang."

"Keduanya sudah punya bekal electoral memadai karena Jokowi effect. Sementara kandidat lain harus memulai dari zero," ujar analis politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno, ketika dihubungi Tribunnews.com, Selasa (17/12/2019).

Baca: Survei Median: Pemilih PDIP Terbelah Dalam Pilkada Solo 2020

Meski tak diminta, Adi mengatakan pasti akan banyak pihak yang menawarkan diri untuk membantu putra dan menantu Jokowi tersebut. Banjir dukungan pun disebutnya tak akan terelakkan.

Namun, ia melihat potensi munculnya kecemburuan politik akibat dinasti politik. Sebab melawan dinasti politik bukanlah perkara mudah.

Baca: Anak dan Menantu Jokowi Maju Pilkada 2020, Gerindra: Itu Hal yang Wajar

"Ke depan harus diatur jelas soal politik dinasti biar tak ada kecemburuan politik karena jelas merusak kualitas kompetisi. Melawan politik dinasti bukan perkara mudah, apalagi dinastinya sedang berkuasa," kata dia.

Adi mengatakan majunya Gibran dan Bobby dalam Pilkada Serentak 2020 makin membuat daftar panjang gurita politik dinasti di Indonesia.

"Ini sebenarnya satu praktik politik yang seharusnya dihindari agar kekuasaan tak berputar di elit yg itu-itu saja. Di daerah banyak perlawanan terhadap dinasti politik, ini justru muncul kembali dari pusat," tandasnya.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan