Nilai Pancasila Tak Dihayati, Korupsi Marak Terjadi

Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia mengatakan Pancasila merupakan ideologi yang sangat luar biasa.

Nilai Pancasila Tak Dihayati, Korupsi Marak Terjadi
Tribunnews.com
Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketua Komisi II DPR Ahmad Doli Kurnia mengatakan Pancasila merupakan ideologi yang sangat luar biasa. "Mungkin tidak ada tandingannya dari negara manapun. Simpel, tapi kaya makna.

Cuma 5 sila, tapi bisa membicarakan masalah keindonesiaan bahkan masalah global," ujarnya saat menjadi salah satu pembicara dalam diskusi bertema Mewujudkan Negara yang Damai dan Toleran untuk Indonesia yang Lebih Maju" di Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Baca: Ini 3 Cara BPIP Sebarluaskan Nilai-nilai Pancasila di Era Perkembangan Teknologi

Hadir dalam diskusi itu Wakil Ketua Dewan Pengarah BPIP Try Sutrisno, anggota Dewan Pengarah Andres Anangguru Yewangoe, Sudhamek Agoeng Widodo, dan KH. Said Aqil Siradj.

Menurut Doli, rugi besar jika Indonesia dan masyarakat meninggalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila ini. Doli menilai, banyaknya kasus korupsi dan terorisme yang terjadi di Indonesia, karena masyarakat mulai menjauhi nilai-nilai Pancasila itu.

Ia yakin, seandainya masyarakat menghayati nilai yang terkandung dalam Pancasila, kasus korupsi dan terorisme tidak akan menjamur seperti sekarang. “Ini yang harus dijawab oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ke depan,” katanya.

Anggota Dewan Pengarah BPIP KH. Said Aqil Siradj menambahkan, sejak lahir hingga meninggal sejatinya manusia memiliki amanat insaniah. Amanat ini berarti manusia dilahirkan untuk membuat harmoni di dunia ini.

Karenanya, Islam sebagai agama mengajarkan setiap orang harus bisa memberi rasa aman dan kemaslahatan bagi manusia dan lingkungannya.

Dalam Alquran, kata Aqil, ditegaskan tentang istilah "ummatan wasathan", yaitu umat yang berkualitas. "Agar berperan membangun masyarakat,” ujar Ketua Umum PBNU ini.

Baca: BPIP Bumikan Nilai-nilai Pancasila kepada Ratusan Milenial di Kota Pelajar

Karena itu, kata Aqil, pada Muktamar ke-27 pada tahun 1984, di bawah kepemimpinan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, NU menerima Pancasila sebagai asas tunggal. Alasannya, karena nilai-nilai Pancasila itu sudah sesuai dengan ajaran Islam.

Tantangannya, kata dia, saat ini kita harus memperkuat dan menjaga nilai-nilai luhur Pancasila itu dari serangan ideologi trans-nasional yang tidak jelas.

Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Beni Susetyo mengatakan agar nilai-nilai Pancasila itu bisa membumi salah satunya dibutuhkan contoh dari elit-elit politik kita.

Bagaimana elit politik bisa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila itu. Seperti sifat humanis, gotong royong, dan berperilaku santun.

Baca: Soal Pengarusutamaan Pancasila, BPIP akan Dampingi Masyarakat dengan Usaha Pelatihan agar Berkembang

Jika nilai-nilai itu bisa dicontohkan ke masyarakat, ia yakin ke depan keadaban publik akan terbangun. “Nah bagaimana nilai-nilai Pancasila itu bisa masuk ke dalam sendi-sendi politik kita,” ujarnya. (*)

Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved