Mahfud MD: Banyak Pendemo yang Salah Paham tentang RUU Omnibus Law

salah persepsi yang dimaksud seperti bahwa Omnibus Law dibuat untuk mempermudah pemerintah melakukan kongkalikong dengan pihak asing.

Mahfud MD: Banyak Pendemo yang Salah Paham tentang RUU Omnibus Law
Vincentius Jyestha
Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rancangan Undang-undang (RUU) Omnibus Law oleh pemerintah ternyata menuai polemik dan penolakan dari berbagai pihak. Banyak masyarakat yang akhirnya turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi.

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD mengaku sudah meyakini akan banyak yang menggelar aksi.

Baca: WNI Kembali Diculik Kelompok Abu Sayyaf, Mahfud MD Pikirkan Penyelesaian Jangka Panjang

Baca: Mahfud MD: 660 WNI Diduga Terlibat Teroris Lintas Batas

"Demo itu tidak salah, ini pasti banyak yang demo. Nggak apa-apa, disalurkan aja. Saya katakan kalau ada masalah, dimasukkan apa yang anda persoalkan dari ini. Sehingga saya katakan dari demo itu salah persepsi, salah paham," ujar Mahfud, di Hotel Shangri-la, Jakarta Pusat, Rabu (22/1/2020).

Mahfud mengatakan salah persepsi yang dimaksud seperti bahwa Omnibus Law dibuat untuk mempermudah pemerintah melakukan kongkalikong dengan pihak asing.

"Berarti modal asing tinggal masuk di satu pintu, kongkalikong, lalu rakyat dirugikan. Nggak ada itu (kongkalikong, - red). Karena ini berlaku baik bagi modal asing maupun dalam negeri, perizinan itu. Ini terkadang salah, bahkan disebut mempermudah China masuk. Nggak ada urusannya," jelas dia.

Selain itu, Mahfud menegaskan ada pula kesalahpahaman terkait Omnibus Law yang seakan-akan adalah Undang-Undang terkait investasi.

Anggapan itu dianggap kurang tepat oleh Mahfud, pasalnya investasi hanyalah bagian kecil dari Undang-Undang tersebut.

"Investasi itu bagian kecil aja. Ini UU dengan cipta lapangan kerja dengan mempermudah prosedur berinvestasi. Siapa saja yang berinvestasi? Ya siapa saja, China, Qatar, Uni Emirat Arab, Jepang, Amerika, Eropa," tuturnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved