Petrotekno Jadi Cara Pemuda Subitu Ini Merubah Masa Depan

Pemuda Subitu, suku asli yang mendiami daerah Teluk Bintuni, Papua Barat sudah terbiasa tumbuh menjadi nelayan

Petrotekno Jadi Cara Pemuda Subitu Ini Merubah Masa Depan
TRIBUNNEWS.COM/IST
Yulianus Homna, mendaftar ke Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Teluk Bintuni (P2TIM-TB) atau yang biasa dikenal Petrotekno. Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Teluk Bintuni (P2TIM-TB) ini telah beroperasi sejak 2018. Lembaga pendidikan itu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, bekerja sama dengan Petrotekno. 

TRIBUNNEWS.COM, TELUK BINTUNI - Pemuda Subitu, suku asli yang mendiami daerah Teluk Bintuni, Papua Barat sudah terbiasa tumbuh menjadi nelayan atau bercocok tanam.

Padahal, Teluk Bintuni punya potensi industri minyak dan gas bumi yang sangat potensial dinikmati oleh masyarakat setempat.

Dan ini disadari Yulianus Homna, pemuda Subitu. Hal inilah yang mendasari dirinya mendaftar ke Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Teluk Bintuni (P2TIM-TB) atau yang biasa dikenal Petrotekno.

"Saya masuk Petrotekno untuk mengubah nasib. Petrotekno bagus dan sangat berguna untuk pemuda Bintuni khususnya untuk mencari kerja, industri minyak di sini berkembang pesat,” ujar Yulianus Homna, Jumat (24/1/2020).

Yulianus Homna.
Yulianus Homna. (TRIBUNNEWS.COM/IST)

Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas Teluk Bintuni (P2TIM-TB) ini telah beroperasi sejak 2018. Lembaga pendidikan itu dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, bekerja sama dengan Petrotekno.

Berdiri di atas lahan seluas 9.300 meter persegi di Distrik Bintuni Timur. Beberapa fasilitas yang ada di P2TIM-TB, yaitu gedung Cendrawasih untuk kantor dan administrasi, gedung Kasuari untuk tiga ruang kelas, gedung Mambruk untuk pelatihan praktik Confined Space dan tangki dan Rigging Shelter serta gedung bengkel praktikum utama Kakatua yang merupakan bengkel praktikum keahlian kelistrikan dan sistem instrumentasi, perpipaan, pengelasan, klinik dan dua ruang kelas.

Pusat pelatihan ini juga dilengkapi oleh asrama siswa. Setiap angkatan berjumlah 100 orang siswa pelatihan, yang akan menjalani pelatihan
selama 3.5 bulan.

90 persen siswa pelatihan angkatan pertama merupakan putra daerah Kabupaten Teluk Bintuni.

Rizal Aris, Advisor utama P2TIM-TB mengatakan, keberadaan pusat pelatihan industri migas Teluk Bintuni ini sebenarnya diprioritaskan untuk anak-anak teluk. Terutama untuk Direct Affected Village, atau daerah yang terdampak langsung.

"Prioritasnya untuk tujuh suku, OAP, atau nusantara yang lahir di sini atau sudah tinggal di Bintuni minimal 10 tahun," kata Rizal.

Halaman
12
Editor: FX Ismanto
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved