Diperiksa KPK dalam Kasus Bakamla, Ini Penjelasan Ahmad Sahroni

Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ahmad Sahroni rampung diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Diperiksa KPK dalam Kasus Bakamla, Ini Penjelasan Ahmad Sahroni
Tribunnews.com/Ilham
Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni rampung diperiksa penyidik KPK. Ia diperiksa sebagai saksi kasus suap terkait pembahasan dan pengesahan RKA-K/L dalam APBN-P tahun anggaran 2016 untuk Bakamla, Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (14/2/2020) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ahmad Sahroni rampung diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Ia diperiksa sebagai saksi kasus suap terkait pembahasan dan pengesahan RKA-K/L dalam APBN-P tahun anggaran 2016 untuk Badan Keamanan Laut (Bakamla).

Kehadiran Sahroni memenuhi panggilan penyidik KPK berkaitan dengan kapasitasnya sebagai pengusaha dalam kasus tersebut. Jauh sebelum ia terjun ke dunia politik dan menjadi legislator.

Baca: 40 Hari Kematian Soleimani, Roket Katyusha Hantam Pangkalan Militer AS di Irak

Baca: Minta Anak-anak WNI Eks ISIS Disiapkan Hak Asuh jika Pulang, KPAI: Jika Tak Ada, Negara Ambil Alih

Baca: Deretan Ucapan Hari Valentine untuk Orang Terkasih, dalam Bahasa Inggris Lengkap dengan Artinya

“Kesediaan saya menjadi saksi merupakan bentuk dukungan saya sebagai warga negara maupun lembaga DPR, khususnya Komisi Hukum, tempat saya mengabdi kepada masyarakat dan negara,” ucap Sahroni di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Jumat (14/2/2020).

Kepada penyidik KPK, Sahroni mengungkapkan dirinya hanya memberikan keterangan seputar perkenalannya dengan salah satu terpidana yang kini telah menjalani vonis atas putusan Pengadilan Tipikor.

“Hanya keterangan ketika saya masih berstatus pengusaha yang mengenalnya. Tidak etis saya menyampaikan ke publik mengenai materinya. Lebih baik tanyakan ke penyidiknya saja,” ungkap Sahroni.

“Intinya saya menyampaikan kepada penyidik bahwa hubungan kami kala itu murni didasari bisnis to bisnis, antara perusahaan saya dan perusahaan beliau,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu Sahroni berharap kedatangannya ke KPK dapat menjadi contoh bahwa seluruh warga negara wajib mendukung kinerja KPK dalam kaitannya dengan kebutuhan proses hukum yang menjadi tugas pokok dan fungsi KPK.

“KPK bukan momok menakutkan. Justru kita tidak perlu takut atau menghindar sejauh kita tidak melakukan praktik-praktik yang berindikasi pada perbuatan yang koruptif,” kata Sahroni.

Halaman
12
Penulis: Ilham Rian Pratama
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved