Minggu, 26 April 2026

Virus Corona

WHO Minta Indonesia Waspadai Kasus Corona yang Gagal Terdeteksi

Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) menyurati Presiden Joko Widodo terkait penanganan virus corona Covid-19 di Indonesia.

AFP/FABRICE COFFRINI
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa, Swiss, Rabu (11/3/2020), menyampaikan penilaian bahwa virus corona jenis baru (COVID-19) sebagai pandemi. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia ( WHO) menyurati Presiden Joko Widodo terkait penanganan virus corona Covid-19 di Indonesia. Dalam surat itu, WHO menyinggung soal kasus positif corona yang gagal terdeteksi.

Surat tersebut ditandatangani Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom dan dikirimkan ke Jokowi pada 10 Maret lalu. Surat itu juga diteruskan kepada Kementerian Kesehatan dan Kementerian Luar Negeri.

Pelaksana Tugas Juru Bicara Kemenlu Teuku Faizasyah membenarkan surat tersebut.

Baca: Jokowi Diminta WHO Segera Deklarasikan Darurat Nasional Corona

"Betul," kata dia saat dikonfirmasi Kompas.com lewat pesan singkat.

Baca: Disebut-sebut Mampu Tangkal Virus Corona, Simak Khasiat Temulawak untuk Kesehatan

Dalam surat itu, Tedros awalnya mengapresiasi upaya pemerintah RI dalam menangani corona.

Ia menyebut, setiap negara harus melakukan langkah terukur untuk mencegah penyebaran virus yang pertama kali muncul di China ini.

Baca: Persib Vs PSS Sleman: Kim Bertemu Kakak Ipar, Irfan Bachdim: Tak Ada Keluarga di Lapangan

"Sayangnya, WHO menemukan adanya sejumlah kasus tak terdeteksi yang membuat penyebaran virus ini meluas dan menimbulkan korban jiwa di sejumlah negara," tulis Tedros dalam suratnya.

Oleh karena itu, kata Tedros, WHO terus mendorong setiap negara untuk terus melakukan uji laboratorium terhadap orang yang dicurigai telah terinfeksi corona.

"Khususnya di negara yang memiliki populasi besar dan fasilitas kesehatan yang tak merata di setiap wilayah," kata Tedros.

Tedros menekankan bahwa deteksi dini adalah faktor penting untuk dapat memetakan penyebaran virus ini dan melakukan upaya pencegahan.

Untuk itu, bagi negara yang terdapat kasus tak terdeteksi, WHO merekomendasikan beberapa langkah, salah satunya mendeklarasikan darurat nasional.

Pada poin lainnya, WHO juga merekomendasikan untuk meningkatkan kapasitas laboratorium. WHO meminta pengetesan spesimen tak hanya dilakukan pada yang telah melakukan kontak, tetapi semua orang dengan gejala influenza dan gangguan pernapasan.

Selain itu, WHO juga meminta untuk mengintensifkan edukasi terkait kebersihan tangan, etika bersin dan batuk serta menjaga jarak dengan orang lain.

"Saya sangat mengapresiasi dukungan Anda untuk mengimplementasikan langkah-langkah diatas," tulis Tedros kepada Jokowi.

Tedros juga mengaku sangat berterima kasih jika Indonesia bisa memberikan WHO informasi detail mengenai cara Indonesia melakukan pengawasan, identifikasi kontak dan penelusuran kontak, serta data penting lainnya.

"Sangat penting bagi WHO menerima data tersebut untuk memfasilitasi asesmen risiko yang lebih komprehensif secara global," tulis Tedros.

Sampai saat ini belum ada tanggapan dari pihak istana terkait surat itu. Jubir Presiden Fadjroel Rachman yang dihubungi kompas.com belum memberi respons.

Baca: Ada Kekhawatiran Perusahaan di Asia Pasifik Terkait Kesenjangan dalam Kemampuan Keamanan Siber

Hingga Jumat (13/3/2020) sore, terdapat 69 kasus positif corona di Indonesia yang diumumkan pemerintah. Lima orang dinyatakan telah sembuh, sementara empat orang meninggal dunia.

Berita ini tayang di Kompas.com dengan judul: Surati Jokowi, WHO Singgung soal Kasus Corona yang Tak Terdeteksi

Anies tutup lokasi wisata Jakarta

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan akan menutup seluruh destinasi wisata di DKI Jakarta untuk sementara waktu.

Hal ini untuk mencegah kemungkinan terburuk penularan atas penyebaran virus Corona (Covid-19).

"Semua destinasi wisata dan tempat hiburan milik Pemprov DKI Jakarta akan ditutup selama dua minggu ke depan.," ungkap Anies Baswedan, dilansir KompasTV Live, Jumat (13/3/2020).

Adapun destinasi wisata yang ditutup meliputi Ancol, Ragunan, Monumen Nasional (Monas), dan museum lain di bawah pengelolaan Pemprov DKI Jakarta.

Penutupan juga berlaku saat kegiatan Car Free Day.

Anies mengatakan tujuan penutupan destinasi tak lain untuk meminimalkan kegiatan masyarakat agar tidak saling kontak di ruang terbuka.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2020).
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2020). (Tribunnews.com/ Danang Triatmojo)

Walau demikian, ia mengatakan transportasi di wilayah Jakarta masih tetap berjalan.

Pelayanan masyarakat seperti kelurahan, kecamatan, kantor wali kota, balai kota, Puskesmas, dan rumah sakit juga tetap dibuka untuk umum.

Anies Baswedan mengimbau agar seluruh masyarakat Jakarta lebih memprioritaskan kegiatan di rumah.

Tegas, Anies menyampaikan agar masyarakat dapat menghindari tempat-tempat umum atau ramai dikunjungi banyak orang.

"Jakarta tidak melakukan lockdown. Tetapi Jakarta meminta kepada seluruh warganya sebisa mungkin mengurangi kegiatan di luar rumah, kecuali yang urgent," kata Anies.

Lebih lanjut dijelaskan Anies, kegiatan penting tersebut seperti berbelanja kebutuhan pokok atau memeriksakan kesehatan ke tempatmedis.

Sementara, ia menyampaikan telah menyiapkan protokol yang akan disebarluaskan kepada masyarakat.

Adapun protokol tersebut antara lain untuk acara-acara di perkantoran, perumahan, dan beberapa kegiatan di tempat ibadah.

Diketahui, secara statistik adanya kontak fisik merupakan salah satu potensi penularan tertular meningkat 38 kali.

Angka ini lebih tinggi dari pada orang yang tidak melakukan kontak fisik atau kontak langsung.

Anies menuturkan, Jakarta Selatan pun kini disorot menjadi wilayah yang berpotensi terjadi penularan.

"Kalau terjadi di sebuah wilayah, maka orang-orang yang berinteraksi di wilayah yang sama di situ terjadi potensi penularan," ujarnya.

Alasannya, beberapa kegiatan seperti rapat, makan bersama, dan beberapa kegiatan ramai lainnya terjadi di kawasan tersebut.

Anies menekankan masyarakat Jakarta harus waspada dengan mengetahui dengan siapa saja melakukan kontak langsung, di mana, dan kapan untuk dapat melakukan penelusuran.

Kembali ia meminta agar masyarakat menjaga jarak satu dengan yang lainnya untuk melakukan pencegahan dini.

"Harus ada jarak mungkin sekitar 1 meter antar orang. Kemudian kalau ada pertemuan hindari bersalaman jabat tangan. Apalagi berpeluk dan bergandengan tangan. Kurangi itu," kata Anies.

Anies Baswedan memberikan imbauan kepada warga terkait corona
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memberikan imbauan kepada warga terkait corona

Penyebaran Virus Corona di Indonesia

Masih dari siaran live Kompas TV, sebelumnya, Anies Baswedan menyampaikan jumlah pernyebaran wabah virus Corona sudah ada hampir di seluruh kecamatan di DKI Jakarta.

Menurut data dari Pemerintah Provinsi Jakarta, penyebaran ada di 17 titik.

Terkait hal ini, Anies berharap agar pemerintah dari dinas kesehatan pusat dapat melakukan uji spesimen suspect virus Corona.

Anies menyampaikan pengujian spesimen tersebut dapat dilakukan dalam waktu satu hari.

"Hasil pemeriksaan tidak perlu menunggu belasan hari. Asal mau langsung diumumkan. Langsung diterima, langsung diproses, langsung mau diumumkan," ujar Anies.

Diketahui, selama ini pemerintah DKI Jakarta cukup kesulitan dalam mengisolasi masyarakat yang terduga mengidap virus Corona.

Sebab pengujian spesimen tersebut baru dapat diumumkan beberapa hari kemudian.

Sementara, orang terduga tersebut masih melakukan aktivitas atau berkegiatan bebas di luar.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved