Virus Corona
Dokter Berguguran di Tengah Wabah Covid-19, Ini Langkah PB IDI
IDI mengelurkan sejumlah imbauan kepada dokter dan petugas medis untuk mengurangi risiko petugas medis atau dokter terpapar virus Corona.
TRIBUNNEWS.COM - Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengelurkan sejumlah imbauan kepada dokter dan petugas medis untuk mengurangi risiko petugas medis atau dokter terpapar virus Corona.
Wakil Ketua Umum IDI, Adib Khumairi mengatakan hingga saat ini terdapat 18 dokter yang meninggal dunia sejak Covid-19 muncul di Indonesia.
Jumlah itu di luar dokter gigi yang meninggal.
"Kalau tidak salah (total) sekitar 18 dokter. Itu belum sama dokter gigi. Ada juga informasi hari ini dokter gigi yang meninggal satu. Ya mungkin ada sekitar 4 atau 5 (dokter gigi meninggal)," terang dia.
Terkait banyaknya dokter yang meninggal di tengah wabah, Adib mengatakan pihaknya mengeluarkan sejumlah imbauan.
Baca: Bertambah Lagi Dokter Meninggal, IDI Kabarkan dr Lukman Shebubakar Tutup Usia
Yang pertama, IDI meminta kepada seluruh dokter yang melakukan pelayanan harus melakukan proteksi diri.
"Semua harus memakai APD (alat pelindung diri), terlepas ketiadaan (APD). Makanya ada improviasasi memakai jas hujan. Saat ini, sebelum bantuan APD standart datang, mereka harus memproteksi diri. Karena kita terus terang tidak tahu pasien itu positif atau tidak," ujar dia.
Selain itu, Adib mengatakan pihaknya juga mengimbau agar rumah sakit mengurangi frekuensi pelayanan di poli atau layanan rawat jalan.
Hal ini agar intensitas kontak dengan pasien berkurang.
Pengurangan layanan poli, lanjut Adib, juga agar petugas medis lebih fokus pada layananan emergensi.
"Jadi layawan rata jalan dikurangi frekuensinya, dibatasi jumlahnya sekaligus mengurangi kontak dan efek kelelahan tenaga medis."
"Selain itu juga semua pelayanan difokuskan kalau ada emergensi sehingga risikoterpapar lebih rendah karena kita tidak tahu pasien yang datang itu positif atau tidak karena datang juga yang memang dia tidak ada gejala," beber dia.
Soal Keterbatasan APD
Terkait kebutuhan APD, Adib mengatakan secara kuantiti, kebutuhan APD masih kurang.
Namun demikian, distribusi APD dilakukan dengan memperhatikan prioritas yakni diutamakan untuk petugas medis yang berada di area perawatan.
"Memang saat ini APD prioritas untuk fasilitas perawatan. Teman-teman kami yang di daerah menyampaikan kekurangan APD nya terutama pada level puskesmas, rs swasta dan klikik praktek mandiri dan dokter mandiri," terang dia.
Tiga Dokter Meninggal Hari Ini, Berstatus PDP
Hari ini, IDI melaporkan tiga dokter meninggal dunia.
Tiga dokter yang meninggal hari ini yakni Dr dr Lukman Shebubakar, Sp.OT (K), Ph.D, dr Bernadette Albertine Francisca T, Sp,THT-KL, dan dr Ketty Herawati Sultana.
dr Lukman Shebubakar merupakan anggota IDI Cabang Jakarta Selatan.
Baca: IDI Sebut Perlu Ada Proses Disiplin dari Pemerintah Untuk Cegah Penularan Virus Corona
Adib Khumaidi, mengatakan tiga dokter yang meninggal hari ini berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) Covid-19.
"Ketiganya meninggal hari ini. Info yang kami terima, ketiganya (berstatus) PDP Covid-19," ujar Adib saat dihubungi Tribunnews.com melalui sambungan telepon.
Ditanya apakah ketiganya positif Corona, Adib mengatakan IDI belum bisa memastikan hal itu.
Hal ini karena IDI tidak menerima data konfirmasi positif atau pun hasil swab test dari dokter-dokter yang meninggal.
"Permasalahannya kita di IDI tidak menerima data terkait konfirmasi positifnya, biasanya itu ke rumah sakit. Kita dapat info saja dari teman-teman kalau ini dirawat dengan (status) PDP Covid. Hasil swabnya, konfirmasi positifnya seringkali kita tidak mendapatkan data lengkapnya," beber dia.
(Tribunnews.com/Daryono)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/virus-corona-di-prancis.jpg)