Breaking News:

45.266 Kasus Demam Berdarah di Indonesia, Angka Kematian Paling Banyak di NTT

NTT menjadi wilayah dengan angka kematian akibat DBD terbanyak yaitu 48 orang.

Wartakota/Nur Ichsan
FOGGING DBD - Relawan PMI Kota Tangerang melakukan pengasapan (fogging) dalam penanganan wabah penyakit demam berdarah di wilayah RW 01 Kelurahan Pinang, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Rabu (19/2/2020), Pengasapan ini dilakukan setelah puluhan warga di wilayah ini terserang virus Chikungunya, yang membuat penderitanya, mengalami lemas badan seperti orang lumpuh.karena nyamuk tersebut menyerang persendian. (Wartakota/Nur Ichsan) 

TRIBUNNEWS.COM JAKARTA - Direktur Penyakit Tular Vektor Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi menyebutkan bahwa sejak 1 Januari hingga 21 April 2020, kasus demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia telah mencapai angka 45.266 kasus.

"Kalau dilihat grafik harian kasusnya masih naik turun, dan penambahan masih di atas 50 kasus per hari," kata Siti kepada Tribunnews.com, Rabu (22/4/2020).

Dari puluhan ribu kasus itu, Provinsi Jawa Barat merupakan wilayah dengan jumlah kasus terbanyak yaitu sebanyak 6.337 kasus.

Lalu, disusul wilayah yang menduduki posisi kedua kasus terbanyak yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sedangkan, Lampung menjadi wilayah ketiga kasus terbanyak dengan 4.074 kasus DBD.

Dari 45.266 total kasus DBD, 297 orang di antaranya meninggal dunia.

NTT menjadi wilayah dengan angka kematian akibat DBD terbanyak yaitu 48 orang. Lalu, Jawa Tengah menduduki posisi kedua dengan 39 kasus dan Jawa Barat 33 kasus.

Baca: Angka Pasien Sembuh Covid-19 di Kota Semarang Relatif Tinggi

Siti mengungkapkan, ketika sebagian besar masyarakat berdiam di rumah karena adanya pandemi Covid-19, mereka justru berpotensi terkena DBD jika tidak melakukan pemberantasan nyamuk (PSN).

Nyamuk juga bisa saja berkembang biak di kantor hingga sekolah-sekolah yang saat ini sedang kosong karena semua aktivitas dilakukan di rumah saja mencegah Covid-19.

"Bisa saja justru di rumah mungkin tidak dilakukan PSN dan kedua sekolah, kantor, musala, dan tempat ibadah yang sekarang sepi karena work from home (WFH). Tempat-tempat itu bisa saja jadi sarang nyamuk," kata Siti.

Halaman
123
Berita Populer
Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved