Senin, 4 Mei 2026

Lebaran 2020

Jokowi Bilang, Mudik Itu Beda dengan Pulang Kampung. . .

"Kalau itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung. Mereka bekerja di Jabodetabek, di sini sudah tidak ada pekerjaan lagi," kata Jokowi.

Tayang:
Penulis: Dodi Esvandi
Editor: Choirul Arifin
Channel YouTube Najwa Shihab
Perbincangan mudik dan pulang kampung disinggung dalam wawancara Najwa Shihab dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka Selasa (21/4/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Jokowi telah mengumumkan larangan mudik bagi seluruh masyarakat untuk mencegah meluasnya virus corona. Larangan mudik itu berlaku pada 24 April 2020. Kebijakan itu pun dinilai lambat dikeluarkan.

Sebab, sudah banyak orang yang sudah mudik ke kampung halamannya.

Kebijakan larangan mudik ini dibahas dalam acara Mata Najwa di yang tayang di salah satu televisi swasta pada Rabu (22/4/2020) malam.

Pada sesi perbincangan Jokowi dengan host Mata Najwa, Najwa Shihab, ada satu hal yang menarik.

Dalam perbincangan tersebut, Najwa mempertanyakan kebijakan larangan mudik dikeluarkan Jokowi baru-baru ini. "Kenapa dilarang sekarang? Kenapa dilakukan menunggu situasi?" tanya Najwa kepada Jokowi seperti dikutip dari Mata Najwa.

Jokowi kemudian mengungkapkan alasannya. Menurutnya, kebijakan itu dibuat tidak grusa-grusu yang akhirnya menimbulkan keributan di tengah masyarakat.

Kemudian di tengah perbincangan, Najwa menyodorkan data dari Kemenhub soal jumlah pemudik di tengah wabah corona sudah mencapai hampir 1 juta orang mudik.

"Hampir satu juta orang mudik, sudah 900 ribu orang mudik dan sudah tersebar ke berbagai daerah. Apakah keputusan itu baru akan dikeluarkan melihat situasi tapi faktanya sudah ada penyebaran orang di daerah," tanya Najwa.

Jokowi kemudian menjawab dengan enteng.

"Kalau itu bukan mudik, itu namanya pulang kampung. Mereka bekerja di Jabodetabek, di sini sudah tidak ada pekerjaan lagi, pulang karena anak istrinya ada di kampung," jawab Jokowi.

Najwa pun terheran-heran dengan jawaban Jokowi karena mudik dan pulang kampung disebut sesuatu yang berbeda.

"Apa bedanya Bapak, pulang kampung dan mudik?" tanya Najwa. Menurut Jokowi, mudik itu pulang kampung pada saat lebaran. "Mudik itu di hari lebarannya, beda. Kalau pulang kampung kan kerja di Jakarta anak istrinya di kampung," kata Jokowi.

Perbincangan Jokowi dan Najwa ini kemudian menjadi viral dan ramai diperbincangkan. Publik juga ikut bertanya-tanya soal apa yang disampaikan Jokowi itu.

Apa benar mudik dan pulang kampung itu berbeda? Banyak yang menukil definisi mudik dan pulang kampung di KBBI yang selama ini dianggap sama saja.

Menanggapi ucapan Jokowi itu, pegiat dan pencinta bahasa Indonesia Ivan Lanin meresponsnya dengan menyebut bahwa kamus sudah mati.

Pernyataan Ivan disampaikan melalui akun Facebooknya. Dia menyebut kamus sudah mati ketika politikus mendefinisikan sendiri sebuah arti kata.

"Kamus sudah mati ketika politikus mendefinisikan sendiri arti kata; ketika para pendengung sibuk mencari pembenaran; ketika para pengikut membeo mengiakan; ketika kepentingan mengalahkan kebenaran; dan ketika aku tidak sanggup berteriak," kata Ivan Lanin dalam statusnya, Rabu (22/4/2020).

TUMPAH RUAH - Ribuan calon penumpang tumpah ruah memenuhi arel Terminal Bus AKAP Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (23/4/2020). Jelang satu hari penerapan larangan mudik, suasana di terminal ini ramai sekali seperti saat mudik.lebaran. (Wartakota/Nur Ichsan)
TUMPAH RUAH - Ribuan calon penumpang tumpah ruah memenuhi arel Terminal Bus AKAP Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (23/4/2020). Jelang satu hari penerapan larangan mudik, suasana di terminal ini ramai sekali seperti saat mudik.lebaran. (Wartakota/Nur Ichsan) (WARTAKOTA/Nur Ichsan)

Sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) Imam Prasodjo menyebut bahwa Jokowi melalui pernyataannya itu terlihat ingin membedakan antara dua konsep.

"Konsep pulang kampung sebab bukan karena Lebaran atau itu return migration biasa. Tetapi, jika sebab ingin kumpul-kumpul di Hari Raya Idul Fitri dengan keluarga itu return migration sebab Lebaran dan disebut mudik," ujar Imam.

Kemungkinan kedua, lanjut Imam, yang ingin disasar oleh Presiden Jokowi adalah masyarakat yang punya pilihan untuk tidak mudik tetapi tetap ingin ke kampung karena ingin bertemu keluarga.

Sementara itu, kata Imam, ada juga masyarakat yang harus pulang kampung karena sudah tidak memiliki pekerjaan di kota dan tidak bisa menanggung biaya hidup di kota.

Baca: Bela Pernyataan Jokowi, KIP: Mudik Berkaitan dengan Lebaran, Pulang Kampung ya Selamanya

"Mereka ini ingin kembali ke kampung karena ketika di desa mungkin bisa hidup menumpang mertua atau orangtua. Sehingga memang harus pulang ke kampung, " kata dia.

Ratusan calon penumpang memadati areal Terminal Poris, Kota Tangerang, yang mayoritas di dominasi penumpang menuju sejumlah kota di pulau Jawa, Kamis (23/4/2020). Mereka nekat mudik di hati terakhir sebelum pemberlakuan larangan mudik, karena takut akan sanksi yang diberlakukan. Mereka mengaku sudah tak.punya lagi penghasilan sejak diberlakukannya PSBB sehingga memilih pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarganya. (Wartakota/Nur Ichsan)
Ratusan calon penumpang memadati areal Terminal Poris, Kota Tangerang, yang mayoritas di dominasi penumpang menuju sejumlah kota di pulau Jawa, Kamis (23/4/2020). Mereka nekat mudik di hati terakhir sebelum pemberlakuan larangan mudik, karena takut akan sanksi yang diberlakukan. Mereka mengaku sudah tak.punya lagi penghasilan sejak diberlakukannya PSBB sehingga memilih pulang kampung untuk berkumpul dengan keluarganya. (Wartakota/Nur Ichsan) (WARTAKOTA/Nur Ichsan)

Namun demikian, Imam menekankan bahwa baik mereka yang punya pilihan untuk tidak mudik, maupun mereka yang ingin kembali ke kampung halaman sama-sama punya risiko menularkan Covid-19.

Baca: Ada Larangan Mudik, KAI Hentikan Perjalanan KA Jarak Jauh Mulai 24 April 2020

"Ya sama dampaknya kalau soal Covid-19. Tetapi punya konsekuensi yang berbeda, " lanjut dia.

Imam juga mengkhawatirkan ada potensi gesekan antara masyarakat dengan aparat keamanan saat perbedaan istilah ini diterapkan di lapangan.

Baca: Intip Serunya Suasana Ramadan di Kediaman Zee Zee Shahab

Utamanya, saat masyarakat yang ingin mudik diperiksa di check point dan diminta untuk kembali ke Ibu Kota, kemudian mengungkapkan sejumlah argumen. Sehingga Imam menyarankan semuanya dilarang ke kampung.

Terlebih jika tujuan kebijakan pemerintah adalah untuk mencegah persebaran Covid-19 supaya tidak semakin meluas.

Baca: Cerita Krisnawati, Driver Ojol Cantik yang Trauma Diusili Customer Pria

"Apapun alasannya dilarang. Tetapi untuk masyarakat yang tidak punya pilihan, harus diberi solusi oleh pemerintah. Perlu dipikirkan seperti apa support pemerintah selama mereka berada di Ibu Kota," ujar dia.

TUMPAH RUAH - Ribuan calon penumpang tumpah ruah memenuhi arel Terminal Bus AKAP Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (23/4/2020). Jelang satu hari penerapan larangan mudik, suasana di terminal ini ramai sekali seperti saat mudik.lebaran. (Wartakota/Nur Ichsan)
TUMPAH RUAH - Ribuan calon penumpang tumpah ruah memenuhi arel Terminal Bus AKAP Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (23/4/2020). Jelang satu hari penerapan larangan mudik, suasana di terminal ini ramai sekali seperti saat mudik.lebaran. (Wartakota/Nur Ichsan) (WARTAKOTA/Nur Ichsan)

Hal senada dikatakan pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah. Ia mengatakan, pernyataan Jokowi tersebut dapat dimanfaatkan para pemudik untuk mengelabui petugas.

Baca: Si Cantik Ika Dewi, Nekat Jadi Relawan Pengemudi Mobil Jenazah Covid-19 Tanpa Izin Orang Tua

"Kalau pulang kampung dibolehkan sedangkan mudik enggak boleh, nanti alasannya berubah pulang kampung. 'Saya pulang kampung, bukan mudik'," kata Trubus.

Trubus menuturkan, hal itu dapat terjadi lantaran budaya hukum di tengah masyarakat menunjukkan masyarakat suka mencari-cari alasan.

Pernyataan Jokowi itu, lanjut Trubus, juga dapat merepotkan penegakan hukum terkait larangan mudik di lapangan.

"Repot di sisi penegakan hukum kalau aturan enggak jelas. Satu, isi aturannya. Kedua, strukturnya, aparat yang melaksanakan bingung nanti," kata Trubus.

Trubus berpendapat, penerapan larangan mudik nanti tidak perlu membeda-bedakan antara orang yang berpergian untuk mudik atau pulang kampung.

Trubus mengatakan, pemerintah seharusnya tegas melarang seluruh warga meninggalkan zona merah selama masa larangan mudik.

"Menurut saya dalam implementasi tidak dibeda-bedakan, enggak ada yang keluar mau pulang kampung atau mudik, selama ada larangan mudik ini keluar dari daerah yang kategori red zone dilarang, titik," katanya.(tribun network/dod)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved