Sarie Febriane Soroti Eks Aktivis 98 yang Duduk di Pemerintahan

Aktivis 1998 Sarie Febriane menyoroti para aktivis di masa lampau yang kini telah menjadi bagian dari pemerintahan

Tribunnews.com/Rina Ayu Panca Rini
Aktivis 98 menyelenggarakan syukuran atas kemenangan pasangan calon presiden nomor urut 01 Jokowi-Maaruf Amin, di Graha Pena, Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (21/4/2019). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktivis 1998 Sarie Febriane menyoroti para aktivis di masa lampau yang kini telah menjadi bagian dari pemerintahan Jokowi.

Dalam diskusi online 'Refleksi 22 Tahun Reformasi : Dulu, Sekarang, dan Masa Depan' yang digelar Forum Diskusi Salemba bersama Iluni UI Policy Center itu Sarie mengatakan pentingnya bagi mahasiswa era sekarang untuk bisa mengawal para aktivis tersebut agar tidak lupa diri.

Baca: Aktivis 98: Gerakan Mahasiswa Harus Terus Tumbuh dan Belajar dari Pengalaman

"Sebenarnya yang nggak kalah penting yaitu bagaimana mahasiswa bisa mengawal mereka yang menjadi bagian dari pemerintahan atau rezim untuk tetap eling (ingat) dan nggak lupa diri bagaimana mereka dulu," ujar Sarie, Jumat (22/5/2020).

Baca: Refleksi 22 Tahun Reformasi, Aktivis 98 : Biarkan Gerakan Mahasiswa Tumbuh Sesuai Zamannya

Dia mengatakan para aktivis yang saat ini berada di lingkungan penguasa dan pemerintahan adalah mahasiswa yang bergerak di tahun 1998.

Menurutnya, semua pihak harus memperhatikan bagaimana mereka setelah 22 tahun berlalu. Apakah masih setia dengan nilai yang mereka perjuangkan dahulu.

"Kita lihat lagi 20 tahun sekarang mereka bagaimana. Apa iya semuanya masih setia dengan nilai-nilai yang dulu mereka perjuangkan dan gelorakan 22 tahun yang lalu?" tanya dia.

Bukan tak mungkin, kata Sarie, para aktivis tersebut kini sudah tak membawa nilai yang dahulu mereka gelorakan. Dalam refleksi 22 tahun reformasi, dia lebih menyoroti persoalan tersebut yang cenderung masih disaksikan.

"Itu bisa kita lihat sendiri kan. Mungkin juga ada yang berkhianat dengan nilai yang mereka gelorakan dulu. Persoalannya lebih ke situ sih saya melihatnya. Jadi bagaimana apa yang dulu merka koar-koarin itu bisa dijaga sampai saat ini atau nggak. Simpel saja kayak gitu," tandasnya.

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved