Breaking News:

Halim Alamsyah Bicara Masa Depan Uang Digital

Halim mengatakan Indonesia menjadi satu di antara yang siap menggunakan uang digital sebagai alat transaksi.

TRIBUN/HO
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah memberikan sambutan saat pembukaan seminar internasional bertajuk 'Facing Softening Global Economy: The Need to Strengthen Bank Resolution Preparedness' di Nusa Dua, Bali, Rabu (21/8/2019). Seminar yang diselenggarakan dari tanggal 21 hingga 23 Agustus 2019 tersebut merupakan agenda rutin tahunan LPS yang diikuti oleh perwakilan dari lembaga penjamin simpanan (deposit insurance corporation/DIC) dan otoritas keuangan berbagai negara, pelaku industri perbankan, serta akademisi, sebagai sarana pertukaran informasi dan pengetahuan mengenai pencegahan dan penanganan krisis keuangan, terutama dalam penanganan (resolusi) bank. TRIBUNNEWS/HO 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) RI Halim Alamsyah, memaparkan masa depan penggunaan uang akan berganti.

Dia menyebut dewasa ini ada wacana umat Islam akan menggunakan uang dinar.

Namun kemungkinan penggunaan uang dinar tidak akan terealisasi karena dominasi digital.

"Uang ini suatu keniscayaan,. mungkin nanti kita tidak lagi menggunakan itu (uang dinar). Kita mungkin langsung menuju ke uang digital atau uang maya yang didasari kepercayaan," kata Halim dalam webinar yang mengangkat topik Sistem Ekonomi Baru Pasca-Covid-19 di Jakarta, Sabtu (13/6/2020) malam.

Baca: LPS Turunkan Suku Bunga Penjaminan Jadi 5,5 persen untuk Rupiah dan 1,5 Persen untuk Valas

Dia bertutur kepercayaan uang digital ini bahwa sistem yang dibuat itu cukup stabil serta bisa digunakan dan bisa diterima semua orang.

"Kita bisa bayangkan dolar akan digantikan uang digital nanti (dedolarisasi)," terang Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia tersebut.

Baca: LPS Turunkan Bunga Penjaminan

Halim melanjutkan bahwa bangsa Indonesia menjadi satu di antara yang siap menggunakan uang digital sebagai alat transaksi.

Dari 260 juta lebih penduduk Indonesia hampir seluruhnya telah menggunakan gawai.

"Bangsa kita bangsa yang menggunakan smartphone cukup banyak. Saya katakan kemungkinan kita melompat itu bisa saja terjadi," tukas Halim.

Menurutnya, kartu kredit juga nantinya tidak akan efektif sebab sudah terkoneksi seluruh ke dalam smartphone.

Lebih lanjut, Halim menuturkan tantangannya adalah pemerintah harus menyediakan internet yang mumpuni jika ingin digital diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

"Yang terpenting memang mengubah mindset seluruh lapisan masyarakat termasuk yang pendidikan rendah ini agar memahami bahwa internet ini sudah menjadi kebutuhan pokok," tuntasnya.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Willem Jonata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved