Minggu, 31 Agustus 2025

KH Hasyim Wahid Atau Gus Im Wafat karena Gangguan Ginjal

KH Hasyim Wahid merupakan putra bungsu pasangan pahlawan nasional KH Abdul Wahid Hasyim dan Nyai Solichah.

Tribunnews.com/Lusius Genik
Suasana Salat Jenazah almarhum KH Hasyim Wahid (Gus Im) di Masjid Jami Al Munawaroh, Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (1/8/2020).   

Tokoh besar NU itu tercatat pernah menjabat salah satu ketua DPP PDI-P pada tahun 1998-2000. Berita kepergian Gus Im telah sampai ke telinga Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. Hal itu disampaikan langsung oleh Sekertaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto.

Hasto mengenang Gus Im sebagai sosok negarawan yang sangat peduli dengan wong cilik. "PDI Perjuangan menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya salah satu tokoh bangsa, sosok negarawan, dan pembela hak-hak wong cilik, KH. Hasyim Wahid, yang akrab dipanggil Gus Im," ucap Hasto Kristiyanto dalam keterangannya, Sabtu (1/8).

Gus Im, lanjut Hasto, dikenal sebagai sosok yang sangat gigih menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi milenial. Kalangan Muslim pun mempunyai komitmen yang kokoh terhadap Pancasila atas apa yang diperbuat Gus Im. Gus Im, jelas Hasto, juga berhasil meyakinkan para ulama bahwa Pancasila adalah final.

“Apa yang dilakukan Gus Im sebenarnya melanjutkan visi para pendiri bangsa, khususnya kakeknya, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan ayahnya, KH. Wahid Hasyim, dan kakaknya KH. Abdurrahman Wahid. PDI Perjuangan meneladani seluruh pemikiran pendiri bangsa, termasuk khasanah pemikiran Islam Nusantara yang dihayati okeh keluarga besar NU," tutur Hasto.

Hasto menceritakan, Adik Kandung Gus Dur itu senantiasa mengajarkan kepada kaum muda agar paham peta geopolitik dan cengkraman kapitalisme global yang semakin menggurita masuk dalam relung-relung negeri kita.

Kesadaran geopolitik yang dibangun Gus Im kepada kalangan milenial menjadi penting agar kita menjadi bangsa yang berdaulat secara politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Hasto menegaskan, warisan pemikiran Gus Im tersebut akan selalu dikenang oleh negeri ini. "Saat ini betul-betul membutuhkan visi kebangsaan yang kokoh dan kesadaran pada geopolitik, sehingga kita dapat memahami bahaya kapitalisme global. Mari kita mendoakan almarhum semoga damai di sisi Tuhan dan seluruh amal baiknya diterima Tuhan Yang Maha Kuasa," kata Hasto.

“Selamat Jalan Gus Im, doa seluruh keluarga besar PDI Perjuangan terus kami panjatkan kehadapan Ilahi," tutup Hasto.

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan