Breaking News:

UU Cipta Kerja

Di Ultah Partai NasDem, Jokowi Singgung UU Cipta Kerja

Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpidato dalam acara HUT ke-9 partai NasDem secara virtual pada Rabu (11/9/2020).

Penulis: Taufik Ismail
Editor: Hasanudin Aco
Tribunnews.com/Larasati Dyah Utami
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo 

TRIBUNNEWS. COM, JAKARTA -  Presiden Joko Widodo (Jokowi) berpidato dalam acara HUT ke-9 partai NasDem secara virtual pada Rabu (11/9/2020).

Kepada para pimpinan dan kader partai NasDem, Presiden mengatakan bahwa perekonomian Indonesia sudah dalam trend yang positif.

Indikatornya yakni pertumbuhan ekonomi nasional di kuartal ketiga yang tumbuh menjadi minus 3,49 persen dibandingkan di kuartal ke dua yang minus 5,32 persen.

"Artinya sudah mengalami peningkatan, pertumbuhan ekonomi 1,83 persen di kuartal ketiga dibandingkan kuartal yang kedua," kata presiden.

Baca juga: Menaker Tanggapi Sejumlah Aksi Unjuk Rasa di Sejumlah Daerah Terkait UU Cipta Kerja

Presiden meminta pertumbuhan ekonomi tersebut terus ditingkatkan. Salah satunya dengan memberdayakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

Apalagi, menurut Presiden, pada 30 Oktober Indonesia telah menerima fasilitas Generalized System of Preferences dari Amerika Serikat.

Dengan fasilitas tersebut Indonesia medapatkan keringanan bea masuk produk produk dalam negeri ke AS.

"Sehingga produk dalam negeri kita produk UMKM kita, lebih bisa bersaing dengan produk-produk negara lain. Bahkan maknanya lebih dari itu, bahwa kita semakin memperoleh kepercayaan besar dari masyarakat internasional," katanya.

Kepercayaan masyarakat Internasional kepada Indonesia tersebut ditambah kemunduran ekonomi sejumlah negara akibat Pandemi Covid-19 harus dijadikan sebagai momentum untuk mengejar ketertinggalan.

"UMKM harus kita berdayakan semaksimal mungkin, peluang kerja harus kita ciptakan sebanyak mungkin," katanya.

Presiden mengatakan semangat itulah yang ada dalam pembentukan Undang-undang Cipta kerja.

Undang undang sapu jagat tersebut dibuat untuk mempercepat industrialisasi dalam negeri, serta memperkuat sektor strategis terutama pangan, kesehatan dan energi.

Presiden tidak menampik bahwa UU tersebut menimbulkan kekhawatiran dan kesalahpahaman karena kurang dikomunikasikan.

Namun hal tersebut lumrah karena merupakan bagian dari restorasi besar-besaran.

"Tetapi kita harus juga maklum bahwa persaingan membutuhkan kecepatan. momentum yang sempit dalam persaingan global harus direspon dengan cepat," pungkasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved