Breaking News:

Teroris Bunuh Sekeluarga di Sigi

Mantan Panglima NII Bongkar Modus Kelompok Teroris Galang Dana

Kepolisian RI mengungkapkan asal-usul dana yang digunakan dalam operasi jaringan teroris Jamaah Islamiah (JI). 

(KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA)
Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri dibantu Tim Inafis Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota mendapatkan barang bukti hasil penggeledahan dua rumah terduga teroris di Kelurahan Sukamaju Kidul dan Sukamaju Kaler, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya, Rabu (13/5/2020).(KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHA) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center,  Ken Setiawan mengungkap praktik kelompok-kelompok teroris mengumpulkan dana melalui kotak amal yang disebar di minimarket bukan hal yang baru. 

Sejak tahun 2000, strategi mennggalang dana dengan cara ini sudah menjamur.

Bahkan mantan panglima NII ini  mengungkap, ada sejumlah kelompok radikal menggalang dana dengan membuat Yayasan yatim piatu. 

Berbekal proposal dan kartu nama, Ken bercerita, mereka lantas mencari dana sumbangan di berbagai titik keramaian, seperti ATM, halte bus, dan pom bensin.

Baca juga: Polri Ungkap Sumber Pendanaan Organisasi Teroris JI, Diantaranya dari Kotak Amal

Mencari dana dengan modus seperti ini hasilnya besar.

“Terkait pendanaan radikalisme lewat amal Yayasan sudah lama saya sampaikan, dan mereka menghsilkan dana yang cukup besar, ada yang di supermarket, minimarket, ada yang di ATM, Food Court, masjid, Pom bensin dan lain-lain. Kalau mereka buat Yayasan Mulai ramai sekitar tahun 2000-an” ujar Ken Setiawan kepada Tribunnews.com, Selasa (1/12/2020).

Hal tersebut disampaikan Ken menyikapi salah satu pendanaan kelompok teroris Jamaah Iskamiah (JI) dari kotak amal yang ditaruh di berbagai minimarket. 

Dia menjelaskan, sejak pagi sampai sore, seorang relawan pencari dana bisa mendapat jutaan rupiah. 

Jumlah yang diperoleh akan berlipatkali sesuai jumlah personel yang diturunkan untuk mencari dana.

"Mereka membuat oraganisasi legal berupa LSM, Yayasan Yatim Piatu, Duafa dan lain-lain. Para jamaah dari kalangan buruh akan diminta menjadi relawan pencari dana untuk mendukung kelompok mereka. Nongkrong di ATM, Pom Bensin, Halte Bus Way, Parkiran, Food Court, Masjid sehabis Jumatan, bahkan kalau ada bencana mereka turun dari rumah ke rumah sebagai relawan kemanusian," cerita Ken.

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved