Breaking News:

Virus Corona

Angka Kematian Meningkat, Dokter dan Tenaga Kesehatan Diminta Displin Gunakan APD 

Seminggu pertama Desember 2020, angka kematian tenaga medis naik 3 kali lipat, IDI minta tenaga medis dan kesehatan disiplin pakai APD.

TRIBUNNEWS/HERUDIN
Sopir bus sekolah memakai alat pelindung diri (APD) lengkap saat membawa orang tanpa gejala (OTG) di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, Jakarta, Rabu (23/9/2020). Sejumlah unit bus sekolah kini dialihfungsikan menjadi kendaraan untuk mengantar pasien Covid-19 berstatus OTG dari puskesmas ke RS Darurat Wisma Atlet seiring meningkatnya kasus baru virus corona di Jakarta. TRIBUNNEWS/HERUDIN 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tim mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan, dalam kurun waktu seminggu pertama bulan Desember 2020, angka kematian tenaga medis naik hingga tiga kali lipat.

IDI imbau para tenaga medis dan kesehatan waspada dan tetap menggunakan APD (alat pelindung diri) dalam menjalankan tugas.

Anggota Tim Pedoman dan Protokol dari Tim Mitigasi PB IDI dr Weny Rinawati SpPK MARS mengingatkan, para tenaga kesehatan agar tidak menurunkan kualitas APD yang dikenakan.

Saat ini standar level APD yang wajib dikenakan oleh para tenaga kesehatan adalah level tertinggi; - sesuai dengan resiko tempat melakukan pelayanan.

Baca juga: IDI: Kematian Akibat Virus Corona itu Nyata, 192 Dokter Meninggal Terpapar Covid-19

"Kami juga berharap agar pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan juga menyediakan APD yang layak bagi para tenaga kesehatan. Sementara itu bagi para tenaga kesehatan yang berpraktek secara pribadi sebaiknya tetap menggunakan APD level sesuai potensi risiko dalam menangani pasien," ujarnya dalam keterangan resmi IDI yang diterima, Sabtu (5/12/2020).

Diketahui per 5 Desember 2020, Tim Mitigasi IDI mengumumkan, pembaruan data tenaga medis yang wafat akibat Covid 19.

Dari Maret hingga Desember ini, terdapat total 342 petugas medis dan kesehatan yang wafat akibat terinfeksi Covid, yang terdiri dari 192 dokter dan 14 dokter gigi, dan 136 perawat.

Baca juga: Ketua IDI : Mohon Kesadaran Masyarakat untuk Aktif Ikuti Testing dan Tracing Covid-19

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhilah, S.Kp, SH, M.Kep, MH menambahkan, sekitar 75 persen perawat yang meninggal akibat Covid umumnya bertugas di kamar rawat inap.

Kemungkinan  perawat tertular dari pasien sebelum hasil swab mereka (pasien) keluar dari lab (laboratorium) atau Orang Tanpa Gejala (OTG).

"Kami menyadari para tenaga kesehatan dari berbagai divisi sudah kewalahan menangani lonjakan pasien covid dan hasil swab yang harus diperiksa. Oleh karena itu, kami juga berharap dukungan pemerintah dan pengelola fasilitas kesehatan untuk meningkatkan kualitas perlengkapan pemeriksaan kesehatan sehingga bisa diperoleh hasil yang lebih cepat untuk mengurangi angka penularan di fasilitas kesehatan, termasuk pemeriksaan rutin untuk para tenaga kesehatan," harap Harif.

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Harif Fadhilah mengatakan bahwa ada sejumlah perawat yang sudah mulai menyerah merawat para pasien Virus Corona.
Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Harif Fadhilah mengatakan bahwa ada sejumlah perawat yang sudah mulai menyerah merawat para pasien Virus Corona. (Channel YouTube Najwa Shihab)

IDI dan PPNI mengimbau  meski ada masyarakat yang tidak percaya adanya Covid-19, mohon agar tetap menjalankan protokol kesehatan agar tidak membahayakan orang lain.

Mengimbau pula masyarakat agar menghindari kegiatan berkerumun dan atau yang melibatkan orang banyak seraya tetap menjalankan protokol kesehatan.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Theresia Felisiani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved