Breaking News:

Cerita Ibu Guru Kembar Naikan Derajat Kaum Marjinal Lewat Pendidikan dan Keterampilan Usaha

Ibu Guru Kembar Pendiri Sekolah Darurat Kartini Sri Rossyati dan Sri Irianingsih ingin memutus rantai kemiskinan dan kebodohan yang ada di masyarakat.

Tangkapan Layar Webinar KompasTV
Webinar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Kementerian PAAA bertajuk Spesial Hari Ibu: Mencerdaskan Perempuan, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa melalui siaran kanal YouTube KompasTV, Senin (21/12/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ibu Guru Kembar Pendiri Sekolah Darurat Kartini Sri Rossyati dan Sri Irianingsih, yang juga dikenal sebagai Ikon Pancasila tahun 2019, merasa terpanggil untuk turut serta mencerdaskan anak-anak Indonesia.

Terutama, kaum marjinal dan terpinggirkan yang tak tersentuh pendidikan sejak dini.

Maka, mereka mendirikan Sekolah Darurat Kartini sebagai sarana untuk mencerdaskan anak-anak kaum marjinal di pinggiran kota.

Berdiri lebih dari 30 tahun, Sekolah Darurat Kartini tentunya telah meningkatkan taraf pendidikan anak-anak marjinal dan orang tua mereka.

Rossy mengungkapkan, panggilan untuk menjadi pendiri sekaligus guru di sekolah tersebut adalah memutus rantai kemiskinan dan kebodohan yang ada di masyarakat pinggiran.

Pasalnya, ia mendapati kasus di lapangan di mana kaum marjinal melakukan nikah di umur muda. Sehingga, ada kemungkinan anak-anak mereka akan dipekerjaakan dan didorong untuk nikah muda juga.

Hal itu disampaikanya dalam webinar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) bersama Kementerian PAAA bertajuk Spesial Hari Ibu: Mencerdaskan Perempuan, Mencerdaskan Kehidupan Bangsa melalui siaran kanal YouTube KompasTV, Senin (21/12/2020).

"Karena masyarakat marjinal itu kawin muda. Jadi kalau kawin muda jadi nanti kalau punya anak disuruh kawin muda. Itu tujuan kami memotong rantai kemiskkinan dan kebodohan di masyarakat marjinal," kata Rossy.

Irianingsih pun menceritakan perjuangan awal bagaimana sekolah darurat Kartini didirikan dengan keterbatasan yang ada. Bahkan, sekolah tersebut telah menampung 3 ribuan anak-anak.

Untuk meningkatkan mutu pendidikan serta perubahan perilaku kaum marjinal, Irianingsih mengatakan sekolah darurat kartini turut membuka 'kelas' untuk orang tua siswa.

Kelas itu diperuntukan bagi orangtua siswa yang ingin mengembangkan keterampilan dan skills untuk memulai usaha. Pihaknya juga menyiapkam modal kerja bagi orang tua untuk memulai usaha.

"Setiap hari jumat, biasanya kita kumpulkan. Kita aharkan pengajian bersama setelah pengajian bersama, kita ajarkan keterampilan jahit, batik. Kalau laki-laki bengkel macem-macem," tutur Irianingsih.

"Tapi setelah mereka lulus dan bisa itu kita berikan modal kerja. Modal kerja bukan uang, tapi mesin jahit, kalau batik ya alat-alat batik berupa barang untuk kerja. Kalau modalnya untuk buka warung, modalnya tidak mahal. Paling banyak Rp 500 ribu. Mereka supaya tidak menyuruh anaknya di jalan atau menyusuruh anaknya jadi pekerja sex atau laki di jalan jadi kriminal," jelasnya.

Rossy mengatakan, sekolahnya sangat terbantu dengan program pemerintah yakni BOS dan KJP. Karena, anak-anak tersebut bisa melanjutkan ke sekolah negeri dan jenjang pendidikan seterusnya.

"Tentunya muridnya tidak hanya anak-anak tapi juga ibu-ibu. Kami rangkul adalah agar berdaya," harapnya.

Cerita lain yang begitu inspiratif juga disampaikan oleh Astatik Bestari, Guru dan Penggagas Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Bestari.

ia mengatakan, pihaknya juga memiliki tekat yang kuat untuk meningkatkan minat belajar dan memutus rantai buta aksara di Desa Catak Gayam, Jombang, Jawa Timur.

"Kita juga mendapat program bantuan dari pemerintah berupa pemberantasan buta aksara dalam hal ini namanya fungsional dan keaksaraan usaha mandiri dan bisa diterima oleh masyarakat," kata Astatik yang juga disebut sebagai Ikon Pancasila.

Selain memiliki program untuk memutus rantai buta aksara, siswa yang tergabung di sekolah tersebut juga diarahkan untuk mengenyam pendidikan hingga 12 tahun. Langkah itu sengaja dilakukan agar masyarakat di daerahnya menjadikan dunia pendidikan sebagai sebuah kebutuhan.

"Mereka menganggap bahwa memang sudah cukup untuk tahu sekedar membaca, berhitung saja. Sudah cukup. Jadi pendidikan tinggi masih dianggap bukanlah hal penting selain bekerja. Kami terus mengusahakan bagaimana perempuan dan semua warga masyarakat itu melihat pendidikan sebagai kebutuhan yang penting dari kebutuhan-kebutuhan lainnya," tutupnya.

Admin: Sponsored Content
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved