Minggu, 31 Agustus 2025

Penanganan Covid

Menkes Budi Paparkan 2 Strategi Perang Hadapi Pandemi Covid-19

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan ada dua strategi dalam perang menghadapi pandemi Covid-19.

Penulis: Reza Deni
Editor: Hasanudin Aco
Grafis Tribunnews.com/Ananda Bayu S
Budi Gunadi Sadikin - Menteri Kesehatan (Muchlis jr/Biro Pers Sekretariat Presiden) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menjelaskan ada dua strategi dalam perang menghadapi pandemi Covid-19.

"Yang satu ada strategi surveillance atau bahasa militernya intel, bagaimana kita bisa tahu musuhnya ada di mana dan mereka bergerak di mana saja, dulu dilacaknya pakai teknik intrograsi sekarang pakai teknik testing dan tracing," kata Menkea Budi dalam apel pelepasan tenaga kesehatan untuk bertugas sebagai vaksinator dan tracer Covid-19 di Lapangan Promoter Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (11/2/2021).

Di Kemenkes, Budi menyebut perlu 30 tracer untuk melakukan tracing per 100 ribu penduduk.

Mereka, dikatakan Budi, harus tersebar di seluruh lokasi.

"Untuk penduduk Kndonesia, kira-kira dibutuhkan 80.000 tracer di seluruh desa, kita tidak punya aparat seperti itu, yang punya hanya polri dan TNI," katanya.

Baca juga: Jokowi: Jangan Sampai yang Terkena Corona Satu Orang yang Di-lockdown Seluruh Kota

Oleh karena itu, menurutnya, harus ada kerja sama dengan Polri dan TNI untuk melakukan fungsi surveillance

"Dengan melibatkan minimal 80.000 tracer atau intel. Itu sebabnya kita dibantu, cuma intelnya bukan intel cari musuh manusia, intelnya cari mush virus," tambahnya

Sementara strategi kedua, dikatakan Budi, saat musuh diketahui, maka musuh tersebut harus dibunuh

"Musuhnya itu musuh virus yang ada di dalam tubuh manusia. Bunuhnya dengan apa? Bunuhnya dengan vaksin," kata Budi.

Mantan Wakil Menteri BUMN tersebut mengatakan vaksin ini harus diberikan kepada 181 juta rakyat Indonesia

"Kalau masing-masing disuntik dua kali, artinya mesti suntik 362 juta suntikan. Bapak Presiden minta satu tahun artinya satu hari mesti suntik satu juta, tidak mungkin kami kuat sendiri," tambahnya.

"Sekali lagi ini adalah perang dimana kita harus membunuh musuh, kita menggaet bapak-bapak dari Pollri dan TNI. Cuma bunuhnya enggak pakai pistol, tetapi bunuhnya pakai jarum suntik," pungkasnya

Berita Terkait
AA

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan