Breaking News:

Wapres: Cara Berpikir Sempit Melahirkan Pola Pikir Menyimpang

Wakil Presiden Ma'ruf Amin menilai cara berpikir sempit sebagai salah satu penyebab munculnya sifat egosentris

Dokumentasi Setwapres
Wapres Maruf Amin. 

Laporan Reporter Tribunnews.com, Reza Deni

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Wakil Presiden Ma'ruf Amin menilai cara berpikir sempit sebagai salah satu penyebab munculnya sifat egosentris, tak menghargai perbedaan pendapat serta tidak mau berdialog

"Cara berpikir sempit juga bisa melahirkan pola pikir yang menyimpang dari arus utama atau bahkan menjadi radikal sehingga dapat menjurus pada penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan masalah," kata Ma'ruf dalam Webinar Nasional
IKADI-BNPT 2021 bertajuk “Peran Da’i Dalam Deradikalisasi Paham Keagamaan Di Indonesia”, Minggu (4/4/2021).

Baca juga: Ancaman Radikalisasi di Kalangan Anak Muda, BNPT: Tanggung Jawab Seluruh Komponen Bangsa

Dia memberikan contoh bagaimana berpikir sempit dan menyimpang yakni peristiwa teror bom di Gereja Katedral di Makassar pada 28 Maret lalu.

"Tindakan ini tidak sesuai dengan ajaran islam karena islam tidak mengajarkan kekerasan dan pemaksaan kehendak (ikrahiyyan) di dalam dakwahnya dan juga dalam memperjuangkan aspirasi melawan ketidakadilan," tambahnya

"Sebaliknya, Islam mengajarkan cara-cara yang santun (layyinan), dan dilakukan dengan cara-cara nasihat yang baik (mau’izhah hasanah), serta berdialog dengan cara-cara yang terbaik (mujadalah billati hiya ahsan)," sambung Ma'ruf.

Baca juga: Densus 88 Pantau Kelompok Jamaah di Jogja dan Jatim, Diduga Terlibat Terorisme

Cara berpikir sempit seperti itu, dikatakan Ma'ruf, menghambat dan kontra produktif terhadap upaya membangun kembali peradaban Islam.

"Hal itulah yang menjadi salah satu penyebab mengapa banyak negara berpenduduk muslim masih mengalami ketertinggalan dalam bidang ekonomi, pendidikan, iptek dan bidang lainnya," katanya.

Dia menjelaskan bagaimana cara berpikir Islami yakni moderat dan dinamis.

"Kita tidak bisa hanya memahami sesuatu secara tekstual/statis berdasarkan teks semata-mata (al jumuud 'ala almanqulaat) serta menolak perkembangan ilmu pengetahuan.

Baca juga: BNPT: Radikalisme dan Terorisme Mengatasnamakan Agama adalah Musuh Agama dan Musuh Negara

Akan tetapi kita juga tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pada perkembangan ilmu pengetahuan dan mengabaikan motivasi agama (ruh diniyah) dalam memandang dan menyikapi setiap persoalan yang muncul dalam kehidupan keseharian," katanya.

Karena itulah, dia mengajak para ulama, pendakwah dan Da'i untuk membangun kembali peradaban Islam dengan mengembalikan cara berfikir wasathy (manhaj al-fikr al-wasathy) yang moderat (tawasuthiyaan), dinamis (tathawuriyan), manhajy (manhajiyan), dan tidak ekstrem.

"Para Da’i diharapkan dapat menjadi kekuatan komunitas, yang mampu mendeteksi dini dan mengeliminasi pola pikir intoleran, egosentris kelompok, dan gerakan yang mengarah pada kekerasan.

Selain itu, para Da’i juga harus mampu mengantisipasi kemajuan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan sikap masyarakat dan menjadi tantangan besar bagi aktivitas dakwah," pungkasnya.

Penulis: Reza Deni
Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved