Breaking News:

Peringatan Kedubes AS, IPW Minta Kabaintelkam Bersihkan Kantong-kantong Terorisme di Indonesia

(IPW) mendesak Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Mabes Polri Komjen Paulus Waterpauw untuk bekerja dan membersihkan kantong-kantong terorisme dan ra

Puspen TNI/Puspen TNI
Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto didampingi oleh Kabaintelkam Polri Komjen Pol Paulus Waterpauw, melakukan silaturahmi dengan para tokoh lintas agama di di Tanah Papua, bertempat di gedung PKK, Manokwari Papua Barat, Sabtu (03/04/2021). Panglima TNI Tegaskan harmonisasi dalam perbedaan melalui komunikasi sosial (Komsos) sebagai perekat dan pemersatu umat dan masyarakat dengan ikut secara pro-aktif menciptakan situasi dan kondisi yang kondusif. (TRIBUNNEWS/PUSPEN TNI) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia Police Watch (IPW) mendesak Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Mabes Polri Komjen Paulus Waterpauw untuk bekerja dan membersihkan kantong-kantong terorisme dan radikalisme di Indonesia.

Pasalnya, Kedubes AS telah mengeluarkan peringatan dini kepada warganya di Indonesia agar menghindari mal, kerumunan, dan tempat tempat hiburan karena ancaman teroris di Indonesia masih tinggi.

"Ini perlu disikapi Polri dengan membersihkan sarang sarang terorisme dan radikalisme yang bisa mengancam ketertiban umum. Tujuannya agar kelompok terorisme tidak punya ruang gerak untuk beraksi," kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane dalam siaran pers yang diterima, Jumat (9/4/2021).

IPW mencatat di Jabodetabek sejumlah kantong teroris sudah diacak-acak polisi tapi di kawasan Depok, Tangsel, dan Tangerang belum berhasil diringkus.

"Dari pendataan IPW sedikitnya ada 11 daerah yang rawan teroris di Indonesia, yakni Jakarta, Jabar, Jateng, Jogja, Jatim, Papua, Sulsel, Sulteng, Lampung, Sumut, dan Banten," katanya.

Sementara itu di Banten, dikatakan Neta, berbagai langkah antisipasi sudah dilakukan polisi, antara lain mengumpulkan kiai kampung, penyuluh agama, dan guru madrasah di seluruh Banten.

"Tujuannya agar paham radikalisme, terorisme dan intoleransi bisa diminimalisir. Bahkan dialog dengan eks napi teroris (napiter) aktif dilakukan," tambah Neta.

Lewat dialog, diskusi, dan seminar, Neta mengatakan para eks napiter diharapkan bisa mandiri, bisa maju dan yang terpenting bisa membantu mereka untuk keluar dari zona merah.

Baca juga: Ancaman Terorisme Kian Meningkat, Kedubes AS di Indonesia Keluarkan Imbauan untuk Warga Negaranya

"Sehingga mereka kembali menyatu dengan masyarakat dan bisa bersahabat dengan aparat untuk menjaga Kamtibmas. Artinya, selain memburu kantong kantong terorisme, para Kapolda juga perlu aktif membina para eks napiter agar keluar dari zona merah," kata Neta.

"Begitu juga Intelkam Polri jangan sampai kecolongan lagi dari ulah teroris. Dengan pagar betis yg maksimal negeri ini tidak terus menerus menjadi bulan bulanan aksi terorisme dan radikalisme," pungkasnya.

Penulis: Reza Deni
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Produk Populer

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved