Breaking News:

Guru Besar IPB Beberkan Kronologi Penganugerahan Profesor Kehormatan Unhan untuk Megawati

Rokhmin Dahuri memaparkan kronologi Universitas Pertahanan (Unhan) RI hendak memberikan gelar Profesor Kehormatan kepada Presiden RI Kelima Megawati S

Ist
Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri didampingi Profesor Rokhmin Dahuri (kanan) saat menerima Doktor Honoris Causa dari Korea Maritime and Ocean University, Busan, Korea Selatan pada 19 Oktober 2015. 

TRIBUNNEWS.COM, Jakarta – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (IPB) Rokhmin Dahuri memaparkan kronologi Universitas Pertahanan (Unhan) RI hendak memberikan gelar Profesor Kehormatan kepada Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri

Pemegang gelar Profesor Kehormatan dari Mokpo National University Korea Selatan itu menjelaskan semua berawal pada November tahun 2020 yang lalu.

Saat itu, beberapa guru besar, membahas terkait dengan usulan pemberian gelar profesor kehormatan tersebut. “Para guru besar tersebut kemudian bertindak sebagai promotor,” ujar Rokhmin. 

Gagasan tersebut kemudian dibahas oleh Rokhmin Dahuri dan Hasto Kristiyanto, Sekjen PDI Perjuangan (PDIP) di Jakarta bersama para Guru Besar.

Para Guru Besar itu menyampaikan gagasan dan usulan agar Unhan menganugerahkan Profesor Kehormatan (Guru Besar Tidak Tetap) kepada Megawati.

Setelah usulan tersebut disetujui oleh Sidang Senat Guru Besar Unhan, disampaikanlah usulan itu ke Megawati Soekarnoputri

”Saat itu disampaikan tiga alasan,” kata Rokhmin, yang juga Ketua DPP PDIP itu, Rabu (9/6/2021). 

Apa saja alasannya? Pertama, Megawati dianggap memiliki dan menguasai tacit knowledge tentang Ilmu Pertahanan, khususnya bidang kepemimpinan strategis.

Para guru besar itu menilai kualitas itu sudah diaplikasikan dalam berbagai peran publik. Yakni saat Megawati menjabat tiga periode anggota DPR dari tahun 1984-1999. Lalu saat menjabat wakil presiden dari 1999 hingga 2001, dan saat menjadi presiden dari 2001 hingga 2004. 

”Plus saat menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan sejak 1999 hingga saat ini. Tacit knowledge ini bila diajarkan dan dibukukan bisa menjadi explicit or empirical knowledge yang sangat berguna bagi peradaban manusia. Begitu pemikiran para guru besar,” kata Rokhmin.  

Halaman
123
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved