Breaking News:

Seleksi Kepegawaian di KPK

Koruptor Bungkus Talibanisme dan Radikalisme Untuk Dapat Simpati Masyarakat Lemahkan KPK

Novel Baswedan menyebutkan para koruptor diduga membungkus narasi adanya talibanisme dan radikalisme di KPK untuk mendapatkan simpati masyarakat

Tribunnews.com/ Gita Irawan
Penyidik Senior KPK Novel Baswedan usai menyerahkan laporan terkait dugaan pelanggaran HAM dalam TWK dan alih status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) kepada Komisioner Komnas HAM di kantor Komnas HAM RI Jakarta pada Senin (24/5/2021). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan menyebutkan para koruptor diduga membungkus narasi adanya talibanisme dan radikalisme di KPK untuk mendapatkan simpati masyarakat.

Nantinya, kata Novel, narasi tersebut membuat masyarakat membiarkan pelemahan dan penyerangan terhadap KPK. Padahal, narasi ini merupakan buatan para koruptor untuk dapat simpati masyarakat.

"Yang terjadi koruptor ini sepertinya belajar. Mungkin dia riset. Dia bungkus kebusukannya untuk berbuat korupsi dengan cara seolah-olah mengatakan bahwa di KPK itu banyak radikalisme. Ketika berbicara radikalisme itu berbicara sekitar 2017 atau 2016. Itu-itu awal mula disebutkan radikalisme talibanisme dan lain-lain," kata Novel dalam diskusi 'Blak Blakan Bareng Novel Baswedan' yang ditayangkan YouTube Public Virtue Institute, Minggu (20/6/2021).

Novel menuturkan upaya koruptor untuk dapat melemahkan KPK selalu gagal karena dukungan dan penolakan masyarakat yang besar. Itulah kenapa, para koruptor mencari cara untuk dapat simpati masyarakat seiring melemahkan KPK.

Caranya, kata Novel, menggunakan isu radikalisme dan talibanisme yang ada di KPK. Namun, ia meyakini masyarakat sudah cerdas memahami pola-pola pelemahan KPK yang dilakukan para koruptor.

Baca juga: Mahfud MD Sebut Koruptor Bersatu Hantam KPK karena Dendam dan Takut Ketahuan

"Kalau kita perhatikan upaya untuk pelemahan KPK dilakukan itu seringkali gagal karena dukungan masyarakat yang luar biasa. Karena kita paham bahwa masyarakat itu tahu kok bahwa korupsi itu betul-betul menganggu akibatnya langsung maupun tidak langsung," ujar dia.

Lebih lanjut, Novel mencatat KPK telah mulai dilakukan pelemahan sejak cicak versus buaya pada 2009 lalu. Pelemahan KPK mulai semakin meningkat mulai tahun 2014 hingga sekarang.

"KPK itu telah menghadapkan serangkaian pelemahan itu berjalan terus-menerus. Kita perlu mengingat bahwa memang sejak awal di tahun 2009 itu ada cicak buaya di sana dan kemudian berlangsung sampai beberapa waktu," tukasnya.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved