Cerita Kepala BNPT Pernah Ditegur Mantan Napi Terorisme hingga Terenyuh Lihat Kondisi Penyintas

Boy mengatakan kebahagian ketika berdinas di BNPT adalah ketika melihat para eks napiter telah berubah kehidupannya.

Penulis: Igman Ibrahim
Editor: Hasanudin Aco
ISTIMEWA
Kepala BNPT, Komjen Pol Boy Rafli Amar saat membuka acara Rapat Kerja Nasional Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Ke-VIII Tahun 2021 dengan tema “Kolaborasi untuk Indonesia”. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar menceritakan suka dukanya selama berdinas sebagai pimpinan BNPT

Cerita tersebut dibagikan oleh Boy Rafli Amar saat merayakan hari ulang tahun (HUT) BNPT ke-11 pada hari ini Jumat (16/7/2021).

Acara ini digelar secara daring.

Ia menyampaikan ada berbagai suka ataupun duka selama menjabat kepala BNPT.

Namun Boy mengaku lebih banyak mengalami duka lantaran tugasnya berhubungan langsung dengan pelaku hingga korban kejahatan terorisme.

"Suka duka pasti banyak karena kita berhubungan dengan individu entitas. Termasuk korban-korban yang kejahatan terorisme itu kan mereka ada yang nafasnya susah, badannya cacat, kemudian matanya sudah cacat. Karena kita rawat dua pihak yaitu penyintas dan kemudian juga napiter dan mantan napiter," kata Boy dalam diskusi daring 'Podcast Toleransi edisi HUT BNPT ke-11' pada Jumat (16/7/2021).

Baca juga: Kepala BNPT Minta Anggotanya Tunda Dinas ke Luar Kota di Masa PPKM Darurat

Dijelaskan Boy Rafli, baik korban maupun pelaku harus dilakukan pendampingan dan perawatan.

Tujuannya agar proses reintegrasi sosial terhadap keduanya masih berjalan baik. 

Namun, lanjut Boy, dirinya tak menampik jika merasa tak tega melihat kondisi korban dari kejahatan tindak pidana terorisme.

Bahkan kondisi yang sama juga pernah diungkapkan presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Duka kami ketika kami berinteraksi dengan para penyintas. Bahkan Bapak Presiden sendiri terenyuh pernah berkata kepada saya Pak Boy, ini beliau beliau ini dipertemukan dengan mereka-mereka yang dulu jadi pelaku pengeboman. Saya sudah lakukan itu kita pernah bikin acara di Cisarua kemudian sebagian mereka kita pertemukan. Jadi kita lebih banyak dukanya melihat kondisi seperti itu," jelasnya.

Di sisi lain, Boy mengaku sukanya menjabat sebagai Kepala BNPT selama setahun terakhir hanyalah bisa berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia.

Khususnya untuk bertemu berbagai macam lapisan entitas eks napiter.

Menariknya, Boy menyatakan pernah ditegur oleh eks napiter ketika berkunjung dalam rangka memberikan pendampingan.

Mereka tak sepakat dengan diksi yang diberikan terkait status mereka sebagai eks napiter.

 "Jadi mereka tidak mau dipanggil napiter tapi mereka mau dipanggilnya mitra. Mereka juga punya gengsi kan. Pak jangan sebut saya sebagai eks napiter dong, yang lebih keren sedikitlah, akhirnya kita cari nomenklatur yang bagus yaitu mitra BNPT," bebernya.

Lebih lanjut, Boy mengatakan kebahagian ketika berdinas di BNPT adalah ketika melihat para eks napiter telah berubah kehidupannya.

Beberapa di antaranya bahkan menjadi pengusaha muda yang sukses.

"Jadi segala suka duka mereka ada yang sudah sukses menjadi pengusaha muda, pengusaha kerajinan yang menjadi peternak menjadi petani menjadi pembuat pembatik macam-macam. Jadi mereka sudah kembali normal, kembali kepada kehidupan. Jadi itulah kepuasan kita," tukasnya.

  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved