Breaking News:

Aliran Sesat di Gowa

Staf Khusus BPIP Soroti Kasus Bocah Korban Pesugihan: Bertentangan dengan Pancasila

Kasus dugaan ritual pesugihan yang menumbalkan mata bocah 6 tahun di Kabupen Gowa, Sulawesi Selatan menjadi kabar yang memilukan bagi masyarakat.

Fitri Wulandari/Tribunnews.com
Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP Romo Benny Susetyo. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fransiskus Adhiyuda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kasus dugaan ritual pesugihan yang menumbalkan mata bocah 6 tahun di Kabupen Gowa, Sulawesi Selatan menjadi kabar yang memilukan bagi masyarakat di Indonesia.

Diketuhui pelaku dari tindak kekerasan terhadap bocah tersebut merupakan keluarga sendiri yaitu Ayah, Ibu, Paman, dan Kakek korban.

Kasus yang saat ini sedang dalan proses hukum mendapatkan perhatian dari Staf Khusus Ketua Dewan Dewan Pengarah, Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Antonius Benny Susetyo.

Benny menjelaskan kasus seperti ini merupakan fenomena gunung es.

"Fanomena seperti ini memang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Hal ini dilakukan karena mereka yakin kalau ilmu yang mereka yakini harus dengan tumbal untuk mendapatkan tujuannya baik itu kekayaan, kekebalan, dan lain sebagainya," kata Benny dalam keterangannya, Jumat (10/9/2021).

Baca juga: Cerita Prajurit TNI Selamatkan Bocah Tumbal Pesugihan saat Dianiaya Orangtua, Sempat Diancam Pelaku

Paling penting, dikatakan Benny, adalah rasional dalam memandang suatu hal dan tentunya dapat dibuktikan secara ilmiah, bukan melakukan mitos demi jalan pintas mencapai apa yang diinginkan.

Jalan akal budi yang seharusnya dijadikan untuk mengambil keputusan kadang dihiraukan.

"Harus realistis dan rasional dalam memandang suatu hal dan harus bisa dibuktikan secara ilmiah agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi, walaupun di belahan dunia lain masih ada terjadi," ucap Benny.

Benny menegaskan tindakan ini tentu bertentangan dengan Pancasila.

Baca juga: Fakta Baru Kasus Bocah Korban Pesugihan, Dukun Ditangkap hingga Polisi Selidiki Kematian sang Kakak

"Tindakkan ini bertentangan nilai sila pertama karena Tuhan yang Maha esa tidak membebarkan melakukan tindakan melukai rasa kemanusian ini jelas melukai Wajah Tuhan yang mengajar belas kasih karena rasa kemanusia di injak martabatnya," kata Benny.

Benny menambahkan bahwasannya siapa yang mencintai Tuhan dia mencintai sesama.

"Negara yang berdasarkan Pancasila praktek seperti ini harus segera di akhiri dan paham bahwa itu merupakan jalan sesat serta harys di kembalikan pada jalan benar dengan mengembalikan kepada ajaran yg benar," ujar Benny.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved