Breaking News:

PKS Prihatin Ancaman Stunting Menguat Akibat Terbelenggu Impor dan Krisis Petani

Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah agar mengurangi belenggu impor bahan makanan pokok untuk mencegah ancaman stunting. 

SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO
PENCEGAHAN STUNTING - Peserta kompetisi kompetisi cara edukasi isi piringku di sekolah melakukan presentasi di hadapan juri dalam Gathering Isi Piringku di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, Kota Batu, Selasa (28/1/2020). Kampanye Isi Piringku merupakan edukasi berkelanjutan dari Danone Indonesia yang menyasar guru Paud, Ibu PKK dan Orangtua tentang anjuran gizi seimbang untuk mencegah stunting pada anak-anak. (SURYA/HAYU YUDHA PRABOWO) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bidang Kesejahteraan Sosial Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah agar mengurangi belenggu impor bahan makanan pokok untuk mencegah ancaman stunting

"Upaya menurunkan angka stunting di Indonesia harus dilakukan secara komprehensif dari berbagai sisi, termasuk langkah penyediaan bahan pangan tinggi gizi secara mudah dan murah," ujar Netty dalam keterangannya, Kamis (30/9/2021)

Kesejahteraan rakyat, katanya, sulit tercipta jika pemerintah masih bergantung pada impor bahan pangan. 

Baca juga: Program Rumah Bunda Sehat, Bentuk Intervensi Penanganan Stunting di Bekasi

Menurut data BPS, dalam kurun waktu Januari hingga Agustus 2021, Indonesia mengimpor lebih dari 15 juta ton bahan pokok senilai US$ 8,37 miliar atau setara dengan Rp 118,9 triliun. 

Menurut sumber yang sama, untuk komoditas jagung sepanjang Januari-Agustus sudah impor sebanyak 592.101,7 ton, sedangkan impor ikan segar sebanyak  507,8 ton. 

"Kita seharusnya prihatin dan sedih dengan kondisi ini. Pemerintah harus mencari akar masalahnya, mengapa dengan luas laut mencapai 2/3 dari seluruh luas wilayah Indonesia atau sekitar 5,8 juta kilometer persegi, Indonesia masih bergantung pada impor ikan. Seharusnya potensi ini digali dan dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan," ungkapnya. 

Kondisi tingginya impor bahan pangan Indonesia ini menurut Wakil Ketua Fraksi PKS, semakin mengancam angka stunting di Indonesia. 

"Indonesia berpotensi kekurangan pangan jika tidak segera membangun kemandirian pangan. Ini dapat menjadi ancaman serius bagi penurunan stunting yang saat ini kita menjadi juara keempat dunia. Harusnya pemerintah lebih memperhatikan kehidupan dan kesejahteraan petani, tidak hanya sebatas swasembada pangan tapi juga harus diikuti dengan swasembada gizi" katanya. 

Baca juga: Di Tengah Pandemi, 3 Provinsi Ini Diprediksi Alami Kenaikan Kasus Stunting

Netty meminta pemerintah memaknai momentum Hari Tani Nasional 24 September 2021 untuk membangun komitmen dan aksi membahagiakan petani

"Kita seharusnya membahagiakan petani dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber pangan dalam negeri untuk mencukupi kebutuhan. Tanah kita kaya akan sumber bahan pangan, seperti,  jagung, ubi kayu atau singkong, beras, kentang, kopi, teh hingga cengkeh," katanya.

Selain itu, Netty mengingatkan pemerintah memberdayakan  petani dan menyejahterakan kehidupan mereka agar kemandirian pangan tercapai dan ancaman stunting dapat dicegah. 

"Jangan sampai Indonesia negara agraris akhirnya kehilangan petani karena turunnya minat generasi muda untuk menjadi petani," katanya. 

Data BPS tahun 2013 sampai 2020 telah terjadi penurunan drastis petani muda usia 25-34 tahun yang tersisa hanya sekitar 2,9 juta.

KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved